ZHIHAR

  1. A.     Pengertian Zhihar

Menurut bahasa arab, kata zhihar terambil dari kata zhahrun yang bermakna punggung. Dalam kaitannya dengan hubungan suami istri, Zhihar adalah ucapan suami kepada istrinya yang berisi menyerupakan punggung istri dengan punggung ibu suami, seperti ucapan suami kepada istrinya : “engkau bagiku adalah seperti punggung ibu ku”.

Ucapan Zhihar pada masa Jahillyah dipergunakan oleh suami yang bermaksud mengharamkan menyetubuhi istri dan berakibat menjadi haramnya istri itu bagi suami dan laki-laki selainnya untuk selama-lamanya.[1]

  1. B.     Dasar hukum Zhihar

Firman Allah dalam surat Al-mujadilah : 2-4.

 

”Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”. [2]

 

 

”Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

”Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih”.

Sebab turun ayat Zhihar ini ialah kasus persoalan wanita yang bernama Khaulah binti Tsa’labah yang di Zhihar oleh suaminya Aus bin Shomit yaitu dengan mengatakan kepada istrinya : “kamu bagiku sudah seperti punggung ibu ku”, dengan magsud ia tidak boleh menggauli istrinya sebagaimana tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyah kalimat Zhihar seperti itu sudah sama mentalak istri. Kemudian Khaulah mengadukan hal itu kepada Rasululllah SAW dan beliau menjawab bahwa dalam hal ini belum ada keputusan dari Allah.

Pada riwayat lain beliau mengatakan : “engkau telah diharamkan bersetubuh dengannya”. Lalu Khaulah berkata : “suamiku belum menyebut kata-kata talak”. Berulang kali Khaulah mendesak kapada Rasululllah SAW supaya menetapkan suatu keputusan dalam hal ini, sehingga kemudian turun lah ayat 1 Al-mujadillah dan ayat-ayat berikutnya.

Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 4 menyatakan:

 

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)”.

Menurut istilah hukum islam Zhihar dapat dirumuskan dengan: “ucapan kasar yang dilontarkan oleh suami kepada istrinya dengan menyerupai istri itu dengan ibu atau mahram suami sehingga dengan ucapan itu dimaksudkan untuk mengharamkan istri bagi suaminya”.[3]

Hukum Zhihar berdasarkan kesepakatan para ulama adalah haram. Ini dilandaskan kepada Firman Allah

“Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.(QS. Al-Mujadalah: 3).

Dalam ayat ini ada frasa kalimat “Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta” adalah indikasi (Qarinah) akan keharaman Zhihar.

  1. C.     Ketentuan-ketentuan dan khafarat Zhihar
  2. Bila suami menyesali ucapannya dan berpendapat bahwa hidup kembali dengan istrinya itu akan mendatangkan manfaat serta akan terbina hubungan yang normal dan baik, maka hendaknya suami mencabut kembali Zhiharnya itu mengembalikan istrinya kepangkuannya, saling memaafkan atas apa yang telah terjadi, saling berjanji akan memperbaiki hubungan selanjutnya. Sebelum suami menggauli kembali istrinya maka diwajibkan kafarat zhihar berupa:

 

v  Memerdekakan seorang budak sahaya yang beriman. Ulama dari kalangan Hanafiah berpendapat sah baginya memerdekakan budak baik dari golongan yg beriman / kafir, laki-laki / perempuan, besar / kecil walau masih dalam menyusui, karena isinya berbentuk umum. Sementara itu ulama dari kalangan Syafiiyah dan Malikiyah mensyaratkan iman dalam memerdekakan budak, karena itu tidak sah memerdekakan selain orang yg beriman, sesuai dengan penentuan dari mutlak kepada yg muqayyad pada ayat kifarah dalam membunuh orang karena tdk sengaja “Maka hendaknya memerdekakan budak yg beriman”.

 

v  Berpuasa dua bulan berturut-turut yaitu 30 hari apabila tidak mampu memerdekakan hamba sahaya. Ulama dari Hanafiyah berpendapat yang dihitung adalah bulan hijriyah, karena itu tdk ada bedanya antara sempurna dan tdk sempurna hilalnya, jika berpuasa bukan dengan hilal (bulan hijriyah) maka harus berpuasa selama 60 hari. Menurut ulama Syafiiyah dan Malikiyah : Puasanya menggunakan bulan hijriyah kemudian disempurnakan dengan hisab (hitungan).

 

v  Memberi makan secukupnya kepada 60 orang miskin apabila tidak mampu berpuasa dua bulan berturut-turut. Para ulama berbeda pendapat pd ukuran makanan yg harus diberikan : Imam Abu Hayyan berkata yang jelas secara mutlak memberi makan dan kadarnya sesuai dengan kebiasannya memberi makan kepada anak dan keluarganya / yang bisa memberikan kepuasan (kenyang) tanpa ada batasan tertentu. Imam SyafiI dan Imam Malik berkata : “Tidak sah jika kadarnya lebih sedikit dari enam puluh anak”. Imam Abu Hanifah dan sahabatnya berkata : “Jika dia memberi makan pada satu orang anak miskin setiap hari sebanyak setengah sah sampai sempurna harinya (60 hari), maka dianggap sah”.

 

  1. Bila suami berpendapat bahwa memperbaiki hubungan suami istri tidak akan memungkinkan menurut pertimbangannya bahwa bercerai itulah jalanyang paling baik, maka hendaklah suami menjatuhkan talak kepada istrinya, agar dengan demikian tidak menyiksa istrinya lebih lama lagi. Kedudukan perceraian dalam kasus Zhihar adalah termasuk talak ba’in artinya bekas suami tidak berhak merujuk kembali bekas istrinya, dia hanya dapat kembali mejadi suami istri dengan akad perkawinan yang baru.
  2. Bila setelah suami menzhiharnya merasa tidak aman dari perbuatan suaminya, hendaklah istri mengadukan halnya kepada hakim, lalu hakim memisah tempat suami dengan istrinya sementara menunggu penyelesaian kasus Zhihar ini, sedangkan jika istri merasa aman dari tindakan suami terhadapnya, terjamin suami mematuhi hukum-hukum Allah, maka tidak ada halangan istri tetap serumah denga istrinya.
  3. Kalu tenyata suami tidak mencabut kembali Zhiharnya dan tidak mau menceraikan istrinya, berarti ada unsur kesengajaan suami menelantarkan istrinya dan melanggar hukum Allah, mereka setelah berlalu masa empat bulan atau 120 hari sejak Zhihar diucapkan, maka hakim menceraikan diantara keduanya dan menjadi ba’in lah perceraian mereka itu.

 

  1. D.    Peran syari’at islam dalam Zhihar

Syari’at islam datang untuk memperbaiki masyarakat mendidiknya dan mensterilkan nya menuju kemaslahatan hidup. Hkum islam menjadikan ucapan Zhihar itu berakibat hukum yang bersifat duniawi dan ukhrawi.

Akibat hukum Zhihar yang bersifat duniawi ialah menjadi haramnya suami menggauli istrinya yang di Zhihar sampai suami melaksanakan kafarat Zhihar sebagai pendidikan baginya agar tidak mengulah perkataan dan sikapnya yang buruk itu.

Sedangkan yang bersifat ukhrawi ialah bahwa Zhihar itu perbuatan dosa orang, orang yang mengucapkannya itu berarti berbuat dosa dan untuk membersihkannya wajib bewrtaubat dan memohon ampunan Allah.

  1. E.     Zhihar bagi wanita

Para ulama sepakat bahwa wanita tidak memiliki wewenang menzhihar suaminya, maka jika seorang istri menzhihar suaminya, seperti perkataan : “Kamu (suami) atasku seperti punggung ibuku” maka tidak ada kafarah atasnya dan tidak sah, dan ucapan tersebut dianggap lagwun (main-main).

Imam ibnu Al-Arabi berkata : secara teori perkataannya sah, karena aqad, penghalalan dan pengharaman dalam nikah dari laki-laki bukan wewenang perempuan”.

Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya berkata : “wajib atasnya kafarah jika akan bersenggama”.

Menurut kami ucapan wanita dalam menzhihar suaminya tidaklah sah dan tidak dianggap sebagai thalak baik secara makna dan lafadz, karena wanita berada dalam lindungan suami dan suami melindungi wanita, sebagaimana laki-laki berada pada derajat yang tinggi dari wanita dalam penciptaan, dan sebagai qowwam atasnya, seperti firman Allah SWT :

 

 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

 “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (An-Nisa : 34)[4]

 

  1. F.     Pendapat ulama Tentang berhubungan suami istri sebelum membayar kafarat

Imam Abu Hanifah berkata : “Bagi siapa yg menzhihar istrinya dan berhubungan sebelum membayar kafarah maka berdosa dan bermaksiat kepada Allah, dan gugur kifarahnya karena waktunya telah lewat”.

Mayoritas ulama fiqh berpendapat : “Jika berhubungan sebelum membayar Kafarah berdosa dan melakukan maksiat, hendaknya ia bertaubat,  memohon ampun serta menahan diri dari melakukan hubungan kembali sampai ia membayar kifarah”.

Ada yang berpendapat : “Zhihar tidak diwajibkan kifarah tapi pengharaman hubungan suami istri dan  hal itu tidak bisa digugurkan kecuali dengan kifarah, jika ia tidak melakukan hubungan maka tidak ada kifarah atasnya, dan jika istrinya meninggal / masih hidup maka tidak ada kewajiban atasnya, namun untuk sementara haram atasnya melakukan senggama sampai membayar kifarah,  selama belum membayar maka dilarang berhubungan, jika berhubungan maka gugur zhihar dan kifarah, karena ia menggantungkan hukum zhihar pada pengharaman sementara saja dan  kewajiban membayar kifarah sebelum berhubungan, seperti firman Allah : “Sebelum berhubungan”, jika terjadi hubungan maka hilang syaratnya dan gugur kifarah dengan  ayat, karena setiap kewajiban sesuai dengan waktu / bergantung pada syarat, sehingga jika hilang waktu dan syaratnya maka tidak wajib membayar kifarah dan membutuhkan dalil (petunjuk) lain yang mewajibkan seperti itu pada waktu yang lain. Demikianlah hukum zhihar jika terjadi hubungan sebelum membayar kifarah”.

  1. G.    Hikmah Zhihar
  • Hikmah sebagai hukuman yaitu karena dia mewajibkan atas dirinya sendiri suatu yang tidak berlaku pada orang lain, dan membawa kepada dosa dari peninggalan kaum jahiliyah tanpa ada ketentuan hukum yang mewajibkannya.
  • Hikmah kafarat (denda). Sanksi itu ada dua bentuk yaitu bias jadi sanksi berupa harta dan bisa berupa sanksi badan. Memerdekakan budak dan member makan 60 orang miskin adalah sanksi harta yang didalamnya mengandung kesengsaraan pada jiwa hingga akhirnya enggan untuk mengulangi perbuatannya lagi. Sementara itu, puasa dua bulan (60 hari) berturut-turut tanpa berhenti adalah mengandung kesengsaraan juga yaitu sanksi badan pada satu sisi dan pada sisi lain.

Hikmah yang dimaksud dari semua itu adalah untuk mengingatkan dan mendidik agar jangan melakukan zhihar lagi. Disamping itu, untuk menentang kebiasaan kaum jahiliyah yang mereka itu menzhihar istri-istri mereka secara terus-menerus. Islam datang dengan membawa rahmat dan kasih sayang, maka pikirkanlah betapa hikmat Allah Yang Maha Tinggi.[5]

 


[1] Ghazali,abd.rahman.fikihmunakahat.hal 228.

[2] Fikih islam.kitab nikah.

[3] Loc.cit,hal 229-231.

[5] Loc.cit,hal 233-234

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s