ZAKAT FITRAH

  1. A.     Pengertian Zakat Fitrah

Zakat fitrah dilihat dari komposisi kalimat yang membentuknya terdiri dari kata “zakat” dan “fitrah”.

Zakat secara umum sebagaimana dirumuskan oleh banyak ulama’ bahwa dia merupakan hak tertentu yang diwajibkan oleh Allah terhadap harta kaum muslimin menurut ukuran-ukuran tertentu (nishab dan khaul) yang diperuntukkan bagi fakir miskin dan para mustahiq lainnya sebagai tanda syukur atas nikmat Allah swt. dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta untuk membersihkan diri dan hartanya.

Sementara itu, Fitrah dapat diartikan dengan suci sebagaimana hadits Rasul “kullu mauludin yuladu ala al fitrah” (setiap anak Adam terlahir dalam keadaan suci) dan bisa juga diartikan juga dengan ciptaan atau asal kejadian manusia.

Dari pengertian di atas dapat ditarik dua pengertian tentang zakat fitrah.  Pertama, zakat fitrah adalah zakat untuk kesucian. Artinya, zakat ini dikeluarkan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan atau perilaku yang tidak ada manfaatnya.

Kedua, zakat fitrah adalah zakat karena sebab ciptaan. Artinya bahwa zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini.  Oleh karenanya zakat ini bisa juga disebut dengan zakat badan atau pribadi.

 

  1. B.     Dalil Kewajiban Zakat Fitrah

عَن ابن عُمر رضي اللَّهُ عَنْهُما قال: “فرض رسول الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم زكاة الفطر صاعاً مِنْ تَمْر أَوْ صَاعاً من شعير، على الْعبد والحُرِّ والذَّكر والأنْثى والصَّغير والكبير من المسلمين، وأَمر بها أَنْ تُؤدَّى قَبْلَ خُرُوج النّاس إلى الصلاة” مُتفَقٌ عَلَيهِ

Artinya: Dari Ibnu ‘Umar r.a. dia berkata : Rasulullah SAW, telah mewajibkan zakat fitrah itu segantang korma atau segabtang gandum/beras, atas hamba sahaya, orang merdeka, orang laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar dari orang-orang islam ; Dan beliau memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang keluar menunaikan sholat hari raya. (mutafa’alaih)[1]

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukan kewajiban membayar zakat fitrah, berdasarkan Ibnu Umar bahwa Nabi saw. Mewajibkannya kata “faradlo” dalam hadits tersebut berarti mengharuskan atau mewajibkannya. Ishaq meangatakan: ulama telah sepakat menyatakan wajibnya zkat fitrah itu. Pengakuan Ishaq yang mengatakan telah sepakat ulama itu, seakan-akan dia tidak mengetahui ada pertentangan tentangpendapat Daut dan sebagian ulamapengikut Syafi’I yang mengatakan bahwazakat fitrah itu hukumnya sunat. Dan mereka menafsirkan bahwa maksudnya menurut merreka berarti sunat saja. Akan tetapi penafsiran itu jelas bertentangan dengan zhohir hadits tersebut.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa zakat fitrah itu memang pernah diwajibkan kemudian dibatalkan dengan diwajibkan zakat harta berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Qais bin Ubbadah : bahwa Rasulullah saw pernah memerintahkan untuk membayar zakat fitrah sebelum turun ayat yang mewajibkan zakat harta, lalu setelah diturunkan ayat yang memerintahkan zakat harta itu, maka beliau tidak memerintahkan dan tidak melarangnya, maka pendapat itu tidak benar. Karena dalam sanad hadits tersebut ada seorang perawi yang tidak dikenal. Seandainya hadits itu shohih, maka dalam hadits itu tidak terdapat dalil yang menunjukan baalnya kewajiban zakat fitrah itu, karena tidak adanya perintah yang menunaikan zakat fitrah untuk yang kedua kalinya, tidak bisa dianggap bahwa kewajiban zakat fitrah itu dibatalkan. Perintah yang mewajibkan zakat fitraah itu cukup berdasarkan perintah yang pertama dan tidak hilang hukumnya karena tidak ada perintah ulang (yang kedua kalinya).

Hadits tersebut sebagai dalil yang berlaku umum kewajiban zakat fitrah atas hamba sahaya, dan orang-orang merdeka, laki-laki dan perempuan, kecil dan besar, kaya dan miskin.

Nabi bersabda:

أدوا صدقة الفطر صاعا من قمح – أو قال بر-  عن كل إنسان صغير أو كبير, حر أو مملوك, غني أو فقير, ذكر أو أنثى. أما غنيكم فيزكيه الله وأما فقيركم فيرد الله عليه أكثر مما أعطى. 

 

“Tunaikan zakat fitrah itu segantang gandum bagi setiap orang, laki-laki atau perempuan,besar atu kecil, kaya atau miskin, hamba sahaya.adapun orang kaya, maka Allah menyucikannya dan adapun orang fakir miskin, maka Allah akan mengembalikan pada rezeki yang lebih banyak dari pada zakat fitrah yang diberikannya.”(HR.Bayhaqy)[2]

Al-Mundziriy berkata dalam kitabnya : mukhtashorus sunnah, bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat nama Nu’man bin Rasyid yang haditsnya tidak bias dijadikan hujjah. Sebaik-baiknya hamba ialah yang dibayarkan zakatnya oleh tuannya bagi yang mengatakan bahwa hamba tidak memiliki dirinya, dan bagi yang mengatakan bahwa hamba memiliki dirinya wajib secara mutlak pembayaran zakatnya. Begitu juga istri dibayarkan zakatnya oleh suaminya dan pelayan dibayarkan oleh majikannya dan kerabat dibayarkan zakatnya oleh orang bertanggung jawab mengeluarkan nafkahnya. Ini berdasarkan hadits berikut :

 

 

“Tunaikan zakat bagi orang yang kamu beri makan atau nafkah”.(HR.Darul Quthniy dan Al-Bayhaqy).

Oleh karena itu terjadi perbedaan pendapat tentang masalah itu sebagaimana dibeberkan dalam syarah dan lainnya.

Adapun mengenai anak kecil maka zakat fitrahnya harus diambil dari hartanya sendiri sekiranya dia mempunyai harta, sebagimana kewajiban zakat harta yang diambil dari harta kekayaannya. Jika tidak mempunyai harta maka zakat fitrahnya harus dibayar oleh walinya yang menanggung nafkahnya. Demikian menurut jumhur ulama. Ada yang mengatakan: zakatnya harus dibayar oleh ayahnya secara mutlak. Ada yang mengatakan tidak wajib atas anak kecil, karena zakat fitrah itu disyari’atkan sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari kata-kata omong kosong sebagaimana akan dijelaskan nanti. Akan tetapi pendapat tersebut dibantah hadits dari ibnu umar yang menyatakan wajib zakat fitrah bagi anak kecil.

Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa zakat fitrah itu wajib segantang atas setiap orang islam, berupa korma dan gandum/beras dan tidak ada perbedaan pendapat mengenai masalah itu.juga segantang anggur kering.

Rasulullah SAW bersabda tentang wajibnya zakat fitrah :

وعن ابن عبّاس رضي الله عنهما قال: “فرض رسولُ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم زكاة الفطر طُهْرةً للصائم منَ اللّغو والرّفث، وطُعْمةً للمساكين، فَمَنْ أَدَّاها قبلَ الصَّلاة فهيَ زكاةٌ مَقْبُولةٌ، ومَنْ أَدَّاها بَعْد الصَّلاة فَهي صَدقةٌ مَن الصَّدقات” رواهُ أَبُو داود وابن ماجَهُ وَصحّحه الحاكم.     

Artinya: dari Ibnu Abbas r.a ia berkata : Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah itu            sebagai penyucian dari perbuatan atau perkataan sia-sia dan cabul (yang terjadi selama puasa), dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikan sebelum shalat hari raya, maka termasuk zakat yang di terima (sah), dan barang siapa yang menunaikannya setelah selesai shalat gari raya maka zakat nya itu hanya salah satu sadakah dari sadakah-sadakah biasa (riwayat Abu Daud, Ibnu Majjah dan dinilai sahih oleh Al Hakim)[3]

            Dalam hadits tersebut terdapat dalil yang menunjukkan kewajiban untuk menunaikan zakat fitrah. Dan apabila pembayaran zakat fitrah itu dilakukan sesudah shalat idul fitri maka zakatnya itu di anggap sedakah biasa. Dan ada yang mengatakan wajib mengelurakan zakat fitrah itu mulai terbit fajar pada awal atau hari pertama bulan syawal itu.

Ini berdasarkan hadits diatas (yang artinya) : cukupkanlah kebutuhan mereka fakir miskin untuk mencegah mereka keliling minta-minta pada hari ini.

Ada yang mengatakan : zakat fitrah itu wajib dikeluarkan sejak mulai terbenam matahari pada akhir bulan ramadahan, berasarkan kalimat : sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa. Dikatakan : zakat fitrah itu wajib karena berlalunya dua waktu, berdasarkan kedua dalil itu.

Kalimat “sebagai makanan bagi orang miskin” , sebagai dalil yang menunjukkan pengkhususan zakat fitrah itu bagi mereka. Demikian menurut pendapat sekelompok ulama syi’ah. Ulama berpendapat bahwa zakat fitrah iu sama dengan zakat harta yang dibagikan kepada delapan macam orang yang berhak menerima zakat.

Al mahdi menganggap kuat pendapat ini berdasarkan keumuman ayat At Taubah ayat 60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

” Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” ( QS: At-Taubah: 60).

Adanya pengkhususan sebagian saja dalam hadits itu tidakalah menunjukkan hanya khusus bagi mereka miskin saja, karena sebutan khusus seperti itu terdapat juga dalam hadits yang menjelaskan tentang zakat harta (seperti dalam hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz hanya disebutkan untuk orang-orang kafir), dengan pengkhususan orang fakir dalam hadits itu, tidak ada seorang ulama pun yang mengatakan  bahwa zakat harta itu hanya khusus bagi yang fakir itu dalam pembagiannya. Dalam hadits Mu’adz itu, dia mengatakan : saya di perintahkan untuk memungut atau mengambil zakat dari orang-orang kaya diantara kamu dan harus saya kembalikan atau berikan kepada orang-orang fakir diantara kamu.

  1. Waktu Pelaksanaan Zakat Fitrah

Zakat Fitrah adalah ibadah yang tidak bisa dilepaskan dengan rangkaian ibadah di bulan Ramadhan, sebab kewajiban berzakat fitrah hanya boleh dilakukan pada bulan Ramadhan. Dengan kata lain apabila zakat fitrah dilakukan di luar buan Ramadhan, bisa dipastikan bahwa status zakat fitrah yang dibayarkan menjadi tidak sah. Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas menjelaskan

 

من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة, و من أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات

Barangsiapa yang membayar zakat fitrah sebelum dia melaksanaan shalat iedul fitri, maka zakat fitrahnya diterima (dinyatakan sah), akan tetapi barangsiapa yang mengeluarkannya setelah melaksanakan shalat iedul fitri, maka zakat fitrahnya hanya dianggap sebagai sedekah biasa.

 

Kata “qabla al shalah” (sebelum shalat iedul fitri) dalam hadits di atas menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama’. Ibnu Hazm melarang mendahulukan membayar zakat fitrah sebelum terbenamnya matahari di malam hari raya. Imam Malik dan Imam Hambali berpendapat bahwa boleh membayar zakat fitrah maksimal dua hari sebelum hari raya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa para sahabat mengeluarkan zakat fitrah satu hari atau dua hari sebelum hari raya.

Sementara itu, Imam Syafi’i menyatakan bahwa boleh seseorang membayar zakat fitrah sejak awal Ramadhan. Sebab, kewajiban zakat fitrah adalah sangat terkait dengan kewajiban ibadah puasa, sehingga membayar zakat fitrah meskipun pada awal bulan adalah sesuatu yang diperbolehkan. Berbeda dengan ketiga pendapat Imam di atas, Imam Hanafi justru membolehkan pada awal tahun (Qardawi, 1997:958). Imam Hanafi menganalogkan hal ini dengan diperbolehkannya seseorang yang hendak membayar zakat pada awal tahun.

Mengomentari pendapat-pendapat tersebut Yusuf Qordowi (1997: 994) berpendapat bahwa pendapat Imam Malik dan Imam Hambali adalah pendapat yang lebih hati-hati. Ia menambahkan bahwa boleh-boleh saja pemerintah memungut zakat ini dari masyarakat pada pertengahan bulan Ramadhan jika hal itu dimaksudkan untuk antisipasi tidak meratanya distribusi zakat fitrah kepada para mustahiq karena minimnya waktu yang ada.

  1. Waktu wajib, yaitu ketika mendapati sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari bulan Syawwal.
  2. Waktu jawaz (boleh), yaitu mulai awal Ramadhan.

Dengan catatan orang yang telah menerima fitrah darinya tetap dalam keadaan mustahiq (berhak menerima zakat) dan mukim saat waktu wajib.

Jika saat wajib orang yang menerima fitrah dalam keadaan kaya atau musafir maka wajib mengeluarkan kembali.

  1. Waktu fadhilah (utama), yaitu setelah terbitnya fajar hari raya (1 Syawwal) sebelum pelaksanaan shalat ied.
  2. Waktu makruh, yaitu setelah pelaksaan shalat ied hingga terbenamnya matahari 1 Syawwal, kecuali karena menunggu kerabat atau tetangga yang berhak menerimanya.
  3. Waktu haram, yaitu mengakhirkan hingga terbenamnya matahari 1 Syawwal kecuali karena udzur seperti tidak didapatkan orang yang berhak didaerah itu. Namun wajib menggodho’i.
  4. D.    Mustahiq Zakat

Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 menyebutkan ada delapan golongan yang berhak menerima zakat. Mereka adalah fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah, dan ibnu sabil.

انما الصدقات للفقراء و المساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفى الرقاب والغارمين وفى سبيل الله و ابن السبيل, فريضة من الله والله عليم حكيم.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

 

Ayat tersebut dimulai dengan redaksi innama al shadaqat. Kata shadaqat yang berarti zakat-zakat merupakan bentuk jamak dari kata shadaqah. Menurut Imam Abu Zahroh apabila dilihat dari perspektif ushul fiqih, kata yang berbentuk jamak dan diikuti dengan partikel “al” yang berfungsi mengkhusukan, maka kata tersebut tergolong ke dalam bentuk kata “umum”. Implikasinya adalah bahwa kata tersebut bersifat umum dalam pemaknaannya yang dengan sendirinya belum boleh dijadikan hujjah terhadap persoalan-persoalan yang bersifat khusus. Oleh karena itu perlu dicarikan dalil lain yang bisa difungsikan sebagai takhsis untuk mempertegas atau menjelaskannya.

Dengan demikian, kata al shadaqat yang terdapat dalam ayat 60 surat At Taubah harus difahami sebagai kata yang bersifat umum demikian juga pihak-pihak yang bisa menerimanya. Pertanyaan yang muncul dalam memahami kata tersebut adalah apakah pendistribusian zakat fitrah termasuk dalam kategori ayat tersebut?

Terkait dengan hal ini, ada dua pendapat yang berkembang. Pertama, bahwa distribusi zakat fitrah sama dengan distribusi zakat yang lain. Kelompok ini berpendapat bahwa oleh karena kata al shadaqat bersifat umum, maka hal itu mencakup semua bentuk zakat tak terkecuali zakat fitrah (Zuhaili, 1997:1099). Para ulama yang tergabung dalam kelompok ini adalah para ulama’ dari kalangan Syafi’iyyah.

Kedua, bahwa zakat fitrah tidak bisa dikategorikan ke dalam ayat 60 surat At Taubah. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh kelompok ini adalah:

a.      Keberadaan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas

 فرض رسول الله  زكاة الفطر طهرة للصائم من اللهو و الرفث و طعمة للمساكين

 merupakan takhshish terhadap keberadaan ayat 60 surat at Taubah.

b.      Kewajiban yang dibebankan oleh zakat fitrah dan zakat yang lain  berbeda. Dalam zakat seseorang baru diwajibkan mengeluarkan zakat atas hartanya apabila;

  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Harta tersebut merupakan harta miliknya secara penuh
  4. Sudah mencapai satu nisab
  5. Mencapai satu khaul (untuk barang-barang tertentu) [4]

Ketentuan-ketentuan tersebut hanya bisa dipenuhi bagi orang-orang muslim yang dalam keadaan berkecukupan harta, sedangkan orang muslim yang miskin rasanya tidak mungkin bisa memenuhi ketentuan di atas. Jika demikian, maka orang muslim yang miskin tidak berkewajiban mengeluarkan zakat atas hartanya. Berbeda dengan hal itu, kewajiban zakat fitrah tidak didasarkan atas berapa banyak harta yang dimiliki, akan tetapi pada:

  • Islam
  • Mampu menjumpai malam idul fitri
  • Tersedia kelebihan makanan pada malam hari raya untuk dirinya atau keluarganya [5]

Apabila seorang muslim masih bisa menjumpai malam iedul fitri sedangkan dia mempunyai kelebihan makanan, maka yang bersangkutan berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Bahkan bayi yang dilahirkan pada iedul fitri sekalipun, apabila orang tuanya mamiliki kelebihan makanan, maka wajib bagi dia mengeluarkan zakat fitrah atas bayinya. Tidak adanya perbedaan antara yang kaya dan miskin antara yang besar dan yang kecil dalam kewajiban membayar zakat fitrah sebagaimana dinyatakan dalam hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah;

أدوا صدقة الفطر صاعا من قمح – أو قال بر-  عن كل إنسان صغير أو كبير, حر أو مملوك, غني أو فقير, ذكر أو أنثى

c.  Tujuan disyariatkannya zakat fitrah bebeda dengan yang zakat lain. Tujuan ibadah zakat fitrah adalah untuk mensucikan orang-orang yang berpuasa dari perkataan dan pernuatan yang tidak bermanfaat yang mereka lakukan pada saat berpuasa. Sementara itu tujuan ibadah zakat adalah membersihkan kotoran yang terdapat pada manusia.

Dari tiga argumentasi di atas, kelompok ini berketetapan bahwa perlakuan terhadap zakat fitrah tidak bisa disamakan dengan perlakuan terhadap zakat yang lain. Oleh karena zakat fitrah berbeda dengan zakat yang lain, maka pendistribusiannya juga berbeda. Zakat fitrah tidak bisa diberikan kepada selain fakir dan miskin. Kelompok ini juga berpendapat bahwa redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara tegas menyebut “tu’matun li al masakin” yang artinya makanan bagi orang-orang miskin. Hadits ini memberikan penegasan bahwa mereka yang berhak menerima distribusi zakat fitrah adalah fakir dan miskin dan bukan enam ashnaf (golongan) yang lain.

Yusuf Qardawi (1997:965) menyebut ada beberapa ulama yang tergabung dalam kelompok kedua yang menghususkan distribusi zakat hanya kepada fakir dan miskin. Mereka adalah

  1. Imam, Muhammad Ibnu Rusyd al Qurthubi
  2. ulama’-ulama’ dari madzhab Maliki
  3. Ahmad bin Hambal
  4. Ibnu Taymiyyah
  5. Ibnul Qoyyim al Jauziyah
  6. Imam Hadi Qashim
  7. Imam Abu Thalib.

Sementara itu Wahbah Zuhaili (1997:2048) menyebut bahwa ulama’-ulama dari madzhab Hanafi juga ada dalam barisan ini.

Ibnu Rusyd (t.th:282) berpendapat bahwa para ulama’ bersepakat bahwa zakat fitrah hanya diperuntukkan bagi kaum fakir dan miskin yang muslim. Senada dengan Ibnu Rusyd, Ibnul Qoyyim (1999:74) menyatakan:

“Beliau (Rasulullah) memberikan zakat fitrah ini secara khusus kepada orang-orang miskin dan tidak menyalurkannya kepada delapan kelompok secara merata serta tidak memerintahkannya. Tak seorang pun di antara para sahabat Nabi yang juga melakukannya”  

 

Zuhaili (1997:2048) menjelaskan bahwa para ulama dari madzhab Hanafi telah bersepakat bahwa zakat fitrah hendaknya didistribusikan kepada fakir miskin yang muslim, terkecuali untuk kelurga bani Hasyim. Sebab  bani Hasyim adalah orang-orang yang mulia sehingga mereka tidak patut mendapatkannya.

Sementara itu, Qardawi (1997:963) berpendapat bahwa menurut kesepakatan para ulama bahwa zakat fitrah hanya diperuntukkan kepada fakir miskin yang bergama Islam. Qardawi menambahkan bahwa dikhususkannya zakat fitrah untuk kaum fakir dan miskin muslim adalah sejalan dengan perintah Rasul agar umat Islam bisa mebantu saudara muslim lainnya yang sedang kekurangan pada hari raya.  Rasulullah s.a.w bersabda:

  أغنو هم فى هذا اليوم

            “Cukupkanlah mereka (kaum fakir miskin) pada hari itu (iedul fitri)”

 

  1. E.     Syarat Sah Zakat Fitrah
  2. 1.      Niat.

Niat wajib dalam hati. Sunnah melafadzkannya dalam madzhab syafi’i.

Niat untuk fitrah diri sendiri:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ نَفْسِي لِلَّهِ تَعَالىَ

(Saya niat mengeluarkan zakat fitrah saya karena Allah Ta’ala)

Niat untuk zakat fitrah orang lain:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ اْلفِطْرِ عَنْ  فُلاَنٍ أَوْ فُلاَنَةْ لِلَّهِ تَعَالىَ

(saya niat mengeluarkan zakat fitrah fulan atau fulanah karena Allah Ta’ala)

Keterangan dari hadits diatas bahwa Anak yang sudah baligh, mampu secara fisik, tidak wajib bagi orang tua mengeluarkan zakat fitrahnya. Oleh karena itu apabila orang tua hendak mengeluarkan zakat fitrah anak tersebut, maka caranya :

  1. Men-tamlik makanan pokok kepadanya (memberikan makanan pokok untuk fitrahnya agar diniati anak tersebut).
  2. Atau mengeluarkannya dengan seizin anak

Cara niat zakat fitrah

  1. Jika dikeluarkan sendiri, maka diniatkan ketika menyerahkannya kepada yang berhak atau setelah memisahkan beras sebagai fitrahnya. Apabila sudah diniatkan ketika dipisah maka tidak perlu diniatkan kembali ketika diserahkan kepada yang berhak.
  2. Jika diwakilkan, diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil atau memasrahkan niat kepada wakil. Apabila sudah diniatkan ketika menyerahkan kepada wakil maka tidak wajib bagi wakil untuk niat kembali ketika memberikan kepada yang berhak, namun lebih afdhol tetap meniatkan kembali, tetapi jika memasrahkan niat kepada wakil maka wajib bagi wakil meniatkannya.
  1. Menyerahkan kepada orang yang berhak menerima zakat

Yaitu ada 8 golongan yang sudah maklum.

Hal–hal yang perlu diperhatikan :

  1. Tidak sah memberikan zakat fitrah untuk masjid.
  2. Panitia zakat fitrah yang dibentuk oleh masjid, pondok, LSM, dll (bukan BAZ) bukan termasuk amil zakat karena tidak ada lisensi dari pemerintah.
  3. Fitrah yang dikeluarkan harus layak makan, tidak wajib yang terbaik tapi bukan yang jelek.
  4. Istri yang mengeluarkan fitrah dari harta suami tanpa seizinnya  untuk orang yang wajib dizakati, hukumnya tidak sah.
  5. Orang tua tidak bisa mengeluarkan fitrah anak yang sudah baligh dan mampu kecuali dengan izin anak secara jelas.
  6. Menyerahkan zakat fitrah kepada anak yang belum baligh hukumnya tidak sah (qobd-nya), karena yang meng-qobd harus orang yang sudah baligh.
  7. Zakat fitrah harus dibagikan pada penduduk daerah dimana ia berada ketika terbenamnya matahari malam 1 Syawal. Apabila orang yang wajib dizakati berada di tempat yang berbeda sebaiknya diwakilkan kepada orang lain yang tinggal di sana untuk niat dan membagi fitrahnya.
  8. Bagi penyalur atau panitia zakat fitrah, hendaknya berhati-hati dalam pembagian fitrah agar tidak kembali kepada orang yang mengeluarkan atau yang wajib dinafkahi, dengan cara seperti memberi tanda pada fitrah atau membagikan kepada blok lain.
  9. Mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) tetap wajib fitrah sekalipun dari hasil fitrah yang didapatkan jika dikategorikan mampu.
  10. Fitrah yang diberikan kepada kyai atau guru ngaji hukumnya TIDAK SAH jika bukan termasuk dari 8 golongan mustahiq.
  11. Anak yang sudah baligh dan tidak mampu (secara materi) sebab belajar ilmu wajib (fardlu ‘ain atau kifayah) adalah termasuk yang wajib dinafkahi, sedangkan realita yang ada mereka libur pada saat waktu wajib zakat fitrah. Oleh karena itu, caranya harus di-tamlikkan atau dengan seizinnya sebagaimana di atas.
  12. Ayah boleh meniatkan fitrah seluruh keluarga yang wajib dinafkahi sekaligus. Namun banyak terjadi kesalahan, fitrah anak yang sudah baligh dicampur dengan fitrah keluarga yang wajib dinafkahi. Yang demikian itu tidak sah untuk fitrah anak yang sudah baligh. Oleh karena itu, ayah harus memisah fitrah mereka untuk di-tamlikkan atau seizin mereka sebagaimana keterangan di atas.
  13. Fitrah dengan uang tidak sah menurut madzhab Syafi’i.
  1. F.     Bentuk Zakat Fitrah

Zakat fitrah yang diberikan berupa makanan pokok negeri setempat meskipun makanan tersebut tidak disebutkan secara tegas di dalam hadits-hadits. Hal ini didasarkan ucapan sahabat Abu Sa’id Al-Khudri :

كُنَّا نُخْرِجُ فِى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ` يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ؛ وَكَانَ طَعَامُنَا الشَّعِيرَ وَالزَّبِيبَ وَالأَقِطَ وَالتَّمْرَ

“Dahulu, pada masa hidup Rasulullah `, kami membayarkan pada hari Fitri satu sha’ makanan; dan pada waktu itu makanan kami adalah gandum, anggur kering, susu kering dan kurma kering.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].

Pada asalnya, tidak diperbolehkan membayarkan zakat fitrah dengan bentuk uang. Akan tetapi, apabila terdapat hal yang menuntut pembayaran zakat fitrah ini berupa uang, maka diperbolehkan. Seperti, apabila dibayarkan berupa makanan pokok justru akan menyebabkan kesulitan bagi penerima zakat karena harus menggilingnya dan seterusnya. Meski demikian, diperbolehkan memberikan uang kepada petugas zakat untuk dibelikan makanan pokok yang kemudian diserahkan kepada yang berhak berupa makanan pokok.


[1]DRS.Abu bakar  Muhammad.Terjemahan subulussalam.Surabaya:al-ikhlas

[2]DRS.Abu bakar  Muhammad.Terjemahan subulussalam.Surabaya:al-ikhlas

[3] A.Hassan.1984.Bulughul Maram.Bandung:CV.Diponegoro

[4] Syuja’, Abu. T.th. Fath al Qarib. Surabaya. Hidayah.th:90.

[5] Syuja’, Abu. T.th. Fath al Qarib. Surabaya. Hidayah.th:97.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s