‘URF

  1. A.    Pengertian

Secara etimologi,urf berarti baik, kebiasaan dan sesuatu yang dikenal. Adat dan‘Urf adalah dua kata yang sinonim (mutaradif) Namun bila digali asal katanya, keduanya berbeda. ‘adat berasal dari kata‘ada-ya’udu artinya perulangan (berulang-ulang), ‘urf berasal dari‘arafa – ya’rifu, sering diartikan dengan “sesuatu yang dikenal” (dan diakui orang banyak).

Tidak ada perbedaan yang prinsip antara adat dan‘urf, karena pengertian keduanya sama, yaitu perbuatan yang telah berulang-ulang dilakukan sehingga menjadi dikenal dan diakui orang banyak. Jadi meskipun asal kata keduanya berbeda,namun perbedaannya tidak berarti[1].

Oleh karena kedua kata itu sama, maka 5 kaedah utama menggunakan kata ‘adat, bukan ‘urf.‘Urf adalah suatu keadaan, ucapan, perbuatan, atau ketentuan yang sudah dikenal manusia dan telah menjadi tradisi dalam masyarakat. Di kalangan masyarakat sering disebut sebagai adat.

  1. B.      Perbedaan adat dengan ‘urf

Namun ada yang membedakan makna keduanya. Adat memiliki cakupan makna yang

lebih luas. Adat dilakukan secara berulang-ulang tanpa melihat apakah adat itu baik atau buruk Adat mencakup kebiasaan pribadi, seperti kebiasaan seorang dalam tidur jam sekian, makan dan mengkonsumsi jenis makanan tertentu.

Adat juga muncul dari sebab alami, seperti cepatnya anak menjadi baligh di daerah tropis, cepatnya tanaman berbuah di daerah tropis. Adat juga bisa muncul dari hawa nafsu dan kerusakan akhlak, seperti suap, pungli dan korupsi. “Korupsi telah membudaya, terjadi berulang-ulang dan dimana-mana”. Sedangkan ‘urf tidak terjadi pada individu. ‘Urf merupakan kebiasaan orang banyak  ﻞﻌﻓ وأ لﻮﻗ ﻲﻓ مﻮﻗ رﻮﻬﻤﺟ ةدﺎﻋ  Kebiasaan mayoritas suatu kaum dalam perkataan atau perbuatan[2].

 

Mustafa Ahmad Zarqa (Yordania), ‘urf bagian dari ‘adat, karena adat lebih umum dari ‘urf. Suatu ‘urf harus berlaku pada kebanyakan orang di daerah tertentu bukan pada pribadi atau golongan.

‘Urf bukan kebiasaan alami, tetapi muncul dari praktik mayoritas umat yang telah mentradisi. Misalnya, harta bersama, konsinyasi, urbun, dll.

 

  1. C.     Jenis Urf

 

  1. a.      Dari Segi Obyeknya (Materi)             
  • ‘Urf Qawli adalah kebiasaan pada lapaz/ucapan

Contoh : Lapaz daging dipahami di Padang hanya daging sapi

Bila sesorang mendatangi penjual daging, dan berkata “Saya beli daging 1 kg”, sedangkan penjual daging memiliki jualan daging-daging lain dan ikan, ayam, bebek. Maka yang diamksud adalah daging sapi. Jika seorang Minang bersumpah tidak akan makan daging, tetapi setelah itu ia makan daging ikan. Maka ia tidak melanggar sumpah / tidak membayar kifarat, karena yang dimaksudkan dengan daging dalam sumpah tersebut adalah daging sapi.

Walaupun menurut Al-quran, ikan termasuk daging “ﺎﻳﺮﻃ ﺎﻤﺤﻟ”. Ini berarti makna daging difahami sesuai dengan ‘urf di suatu daerah. Misalnya seorang bernazar, jika saya lulus S2, saya akan mewaqafkan kereta untuk Yayasan Anak Yatim X. Akibat hukum nazar seseorang tergantung adatnya (daerahnya), Di Malaysia hal itu diwujudkan dengan membeli mobil. Di Sumatera diwujudkan dengan membeli motor.

Di Jawa diwujudkan dengan membeli kereta Api.

ﻪﺑ ﻢﻠﻜﺘﻳ ﻰﺘﻟا ﻪﺘﻐﻟو ﻪﺑﺎﻄﺧ ﻲﻓ ﻪﺗدﺎﻋ ﻰﻠﻋ ﻞﻤﺤﻳ ﺪﻗﺎﻋ ﻞآ

“Jadi setiap orang yang berakad, di dasarkan pada adat kebiasaan dalam ucapan

dan bahasa yang ia ucapkan.”

 

  • ‘Urf Fi’li adalah kebiasaan atau perbuatan

Contohnya:

  1. Kebiasaan pemilik toko mengantarkan barang belian yang berat/besar, ke rumah pembeli seperti lemari, kursi, dan peralatan rumah tangga yang berat lainnya Tanpa dibebani biaya tambahan
  2. Kebiasaan menerapkan proteksi asuransi pada pembiayaan
  3. Kebiasaan meminta agunan pada pembiayaan di bank syariah
  4. Dari segi cakupannya

 

  • ‘Urf ‘Am (Umum) adalah kebiasaan yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan daerah.
  1. Kebiasaan menerapkan proteksi asuransi pada pembiayaan bank syariah. ini berlaku di seluruh Indonesia, bahkan dunia.
  2. Kebiasaan garansi pada pembelian barang elektronik. Ini juga berlaku dimana mana.
  3. Kebiasaan meminta agunan pada pembiayaan di bank syariah.
  4.  Naik Bus Way, jauh dekat, ongkosnya sama.

 

  • ‘Urf Khas (Khusus) adalah kebiasaan yang berlaku secara khusus di daerah tertentu.

 

  1. Kebiasaan pembeli dapat mengembalikan barang yang cacat kepada penjual tertentu, (tetapi tidak berlaku di supermarket).
  2. Bagi masyarakat tertentu penggunaan kata “budak” untuk anak-anak dinggap merendahkan, tetapi bagi masyarakat (Malaya / Asahan tanjung Balai), kata budak biasa digunakan untuk anak-anak.
  3. Adat menarik garis keturunan melalui garis ibu / matrilineal), di Minang Kabau dan melalui Bapak (patrilineal) di suku Batak.
  4.  Dari Segi baik-buruk (Keabsahan)

 

  • ’Urf Shahih

Adat yang berulang-ulang dilakukan, diterima oleh orang banyak, tidak bertentangan dengan syariah, sopan santun dan budaya yang luhur.

Contohnya:

  1. Acara halal bi halal (silaturrahmi) saat hari raya.
  2. Adanya garansi dalam pembelian barang elektronik, dll.
  3. Memproteksi setiap pembiayaan dengan asuransi syariáh
  4. Mengasuransikan pendidikan anak, kenderaan, rumah, barang dagangan via lautan, secara syariáh.
  5. Menerapkan perencanaan keuangan (Financial Planning) dalam keuangan keluarga. Di sini juga ada maslahah.
  6. Kebiasaan Menabung di Bank Syariáh.
  7. Kegiatan MTQ setiap tahun.

 

2) ’Urf Fasid

Adat yang berulang-ulang dilakukan tetapi bertentangan dengan syariah Islam

Contohnya:

  1. Menyuap untuk lulus PNS/meraih jabatan.
  2. Menyuap DPR untuk mensahkan Undang-Undang.
  3. Menyuap partai politik untuk meluluskan calon gubernur atau bupati, dsb.
  4. Memberi hadiah kepada pejabat
  5. Spekulasi valas dan Hedging untuk spekulasi
  6. Kredit dengan sistem bunga di bank riba
  7. Spekulasi saham ?
  8. Bursa berjangka pada indeks tertentu
  9. Judi di pusat-pusat hiburan
  10. Pacaran (pergaulan bebas)
  11.  MLM Konvensional dan kebiasaan-kebiasaan negatifnya.
  12. Berasuransi secara konvensional (non syariah)
  13. Call money dengan sistem bunga
  14. REPO dalam Cek
  15. Arisan uang berantai (sistem piramida)

 

  1. D.    Pandangan para ulama terhadap urf:

Para ulama telah sepakat bahwa seorang mujtahid dan seorang hakim harus memelihara urf shahih yang ada di masyarakat dan menetapkannya sebagai hukum. Para ulama juga menyepakati bahwa urf fasid harus dijauhkan dari pengambilan dan penetapan hukum.

Berikut adalah praktek-praktek ’Urf dalam masing-masing mahzab:

 

 

  1. Fiqh Hanafy
  • Dalam akad jual beli. Seperti standar harga, jual beli rumah yang meliputi bangunanya meskipun tidak disebutkan.
  • Bolehnya jual beli buah yang masih dipohon karena ’urf.
  • Bolehnya mengolah lahan pertanian orang lain tanpa izin jika di daerah tersebut ada kebiasaan bahwa lehan pertanian digarap oleh orang lain, maka pemiliknya bisa meminta bagian.
  • Bolehnya mudharib mengelola harta shahibul maal dalam segala hal menjadi kebiasaan para pedagang.
  •  Menyewa rumah meskipun tidak dijelaskan tujuan penggunaaannya

 

  1. Fiqh Maliki
  • Bolehnya jual beli barang dengan menunjukkan sample
  • Pembagian nisbah antara mudharib dan sahibul maal berdasarkan ’urf jika terjadi perselisihan

 

  1. Fiqh Syafi’i
  • Batasan penyimpanan barang yang dianggap pencurian yang wajib potong tangan
  •   Akad sewa atas alat transportasi
  •    Akad sewa atas ternak
  •  Akad istishna

 

  1. Fiqh Hanbali
  • Jual beli mu’thah

Para ulama sepakat bahwa ‘urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah. Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.

 

Para ulama telah sepakat bahwa seorang mujtahid dan seorang hakim harus memelihara ’urf shahih yang ada di masyarakat dan menetapkannya sebagai hukum. Para ulama juga menyepakati bahwa ’urf fasid harus dijauhkan dari kaidah-kaidah pengambilan dan penetapan hukum. ’Urf fasid dalam keadaan darurat pada lapangan muamalah tidaklah otomatis membolehkannya. Keadaan darurat tersebut dapat ditoleransi hanya apabila benar-benar darurat dan dalam keadaan sangat dibutuhkan.

Imam Syafi’i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan ‘urf. Tentu saja ‘urf fasid tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah.

Abdul Wahab Khalaf berpandangan bahwa suatu hukum yang bersandar pada ’Urf akan fleksibel terhadap waktu dan tempat, karena Islam memberikan prinsip sebagai berikut:

“Suatu ketetapan hukum (fatwa) dapat berubah disebabkan berubahnya waktu, tempat, dan siatuasi (kondisi)”.

Dengan demikian, memperhatikan waktu dan tempat masyarakat yang akan diberi beban   hukum sangat penting. Prinsip yang sama dikemukakan dalam kaidah sebagai berikut:

“Tidak dapat diingkari adanya perubahan karena berubahnya waktu (zaman)”.

Dari prinsip ini, seseorang dapat menetapkan hukum atau melakukan perubahan sesuai dengan perubahan waktu (zaman). Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa suatu ketentuan hukum yang ditetapkan oleh seorang mujtahid mungkin saja mengalami perubahan karena perubahan waktu, tempat keadaan, dan adat.

Jumhur ulama tidak membolehkan ’Urf Khosh. Sedangkan sebagian ulama Hanafiyyah dan Syafi’iyyah membolehkannya, dan inilah pendapat yang shohih karena kalau dalam sebuah negeri terdapat ‘urf tertentu maka akad dan mu’amalah yang terjadi padanya akan mengikuti ‘urf tersebut.

 

 

 

 

  1. E.     Banyak Qaidah Fiqh tentang keharusan urf dalam menetapkan hokum

Adat itu bisa menjadi hukum syara’ عﺮﺸﻟ ﺎﺑ ﺖﺑﺎﺜﻟﺎآ فﺮﻌﻟﺎﺑ ﺖﺑﺎﺜﻟا Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan, sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan Syariat) Sesuatu yang ditetapkan oleh kebiasaan (adat), sama seperti sesuatu yang ditetapkan oleh hukum[3].

Sesuatu yang sudah dikenal baik dan menjadi tradisi para pedagang, maka ia dianggap sebagai kewajiban yang disepakati di antara mereka. Seperti Uang Panjar dalam Jual-Beli.

 

  1. F.      Syarat-Syarat ‘Urf diterima sebagai dalil
  • ‘Urf tidak bertentangan dengan nash
  • ‘Urf itu mengandung maslahat
  • ‘Urf berlaku pada orang banyak
  • ‘Urf itu telah eksis pada masa itu,bukan yang muncul kemudian
  •  ‘Urf tidak bertentangan dengan syarat yang dibuat dalam transaksi

 

  1. G.    Kehujjahan Urf

 

  • ‘Urf ditujukan untuk memelihara kemaslahatan
  • ‘Urf bukan merupakan dalil yang berdiri sendiri, tetapi senantiasa terkait dengan dalil-dalil yang lain, seperti maslahah dan istihsan.
  • ‘Urf menunjang pembentukan/perumuan hukum Islam.

 

 

Contoh ‘Urf:

Menurut adat di daerah tertentu, mahar tidak boleh dicicil, jadi harus dibayar sekaligus sebelum walimah. Si Ali melakukan akad nikah dengan Ani dengan sejumlah mahar, tanpa menjelaskan apakah dibayar secara sekaligus atau dicicil (dalam beberapa kali bayar). Adat yang berlaku saat itu, ialah mahar harus dibayar sekaligus. Beberapa waktu kemudian, istri meminta agar mahar dibayar lunas. Kemudian adat di tempat itu berubah dimana orang-orang mulai mempraktekan pembayaran mahar secara cicilan.

Suami berpegang pada adat yang baru muncul, sementara si istri minta bayaran lunas. Maka berdasarkan ketentuan qaidah urf, suaimi harus membayar lunas, karena ia tidak boleh berpegang kpd adat yang baru muncul. Pembeli dan Penjual lemari es sepakat bahwa barang yang dibeli tersebut tidak menjadi tanggung jawab penjual untruk mengantarnya ke rumah pembeli,Itu kesepakatan mereka, walaupun adat yang berlaku berbeda. Maka disini ’urf tidak berlaku, karena berlawanan dengan syarat yang mereka sepakati.

 

  1. H.    Dalil kaidah

Lafadl al-‘adah tidak terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, namun yang terdapat pada keduanya adalah lafadh al-‘urf dan al-ma’ruf. Ayat dan hadits inilah yang dijadikan dasar oleh para ulama kita untuk kaidah ini. Diantaranya ialah:

  1. 1.      Dalil aI-Qur’an,  

 

(QS Al-Araaf[7]:199).

 

“ Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

(QS.Al-Baqarah[2]: 180).

 

” diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf.”

Dan beberapa ayat lain yang menyebut lafadh ’urf atau ma’ruf yang mencapai 37 ayat. Maksud dan ma’ruf di semua ayat ini adalah dengan cara baik yang diterima oleh akal sehat dan kebiasaan manusia yang berlaku.

  1. 2.      Dalil dari as-Sunnah:

Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah ibn Mas’ud disebutkan, “Apa yang dipandang baik oleh umat Islam, maka di sisi Allah pun baik”. Hadis tersebut oleh para ahli ushul fiqh dipahami (dijadikan dasar) bahwa tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan hukum Islam (fiqh).

  1. 3.      Qawaid fiqiyah yang bersangkutan

Berkaitan dengan ’Urf, dalam qa’idah fiqhiyah disebutkan:

“Adat kebiasaan dapat dijadikan dasar (pertimbangan) hukum”

 

Qaidah yang lain:

“Menetapkan (suatu hukum) dengan dasar (‘urf), seperti menetapkan (hukum) dengan dasar nash”.

 

Dengan kaidah tersebut, hukum Islam dapat dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan tradisi (adat) yang sudah berjalan. Sifat al-Qur’an dan al-Sunnah yang hanya memberikan prinsip-prinsip dasar dan karakter keuniversalan hukum Islam (sebagaimana contoh ayat di atas) dapat dijabarkan kaidah ini dengan melihat kondisi lokal dengan masing-masing daerah. Lebih jauh, dengan kaidah tersebut, dalam bidang perdagangan (perekonomian), qa’idah fiqhiyah memberikan keluasaan untuk menciptakan berbagai macam bentuk transaksi atau kerja sama, yaitu dengan kaidah:

“Sesuatu yang sudah terkenal (menjadi tradisi) di kalangan pedagang, seperti syarat yang berlaku diantara mereka”.

Kaidah-kaidah tersebut memberikan peluang pada kita untuk menetapkan ketentuan-ketentuan hukum, apabila tidak ada nash yang menjelaskan ketentuan hukumnya. Bahkan meneliti dan memperhatikan adat (‘urf) untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan suatu ketentuan hukum merupakan suatu keharusan.


[1] Amir Syarifuddin,II, hlm.364

[2] A.Aziz Khayyath, Nazhayyah al-’Urf, Amman, Maktabah Al-Aqsha, hlm 24

[3]lihat pasal 1499 Al-Majallah al-Ahkam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s