GADAI

  1. A.    PENGERTIAN GADAI DAN DASAR HUKUM GADAI DALAM BW

Dasar hukum yang membahas masalah gadai bisa kita lihat dalam Pasal 1150 – 1160 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), sedangkan untuk pengertian Gadai itu sendiri diatur dalam Pasal 1150 KUH Perdata sebagai berikut:

“Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang lain atas namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada berpiutang lainnya; dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan”

 

  1. B.     CIRI-CIRI GADAI

Dari pengertian gadai tersebut dapat disimpulkan bahwa gadai mempunyai ciri-ciri antara lain :

  1. Jaminan gadai benda-benda bergerak
  2. Mempunyai sifat yang didahulukan
  3. Mempunyai sifat droit de suite yaitu selalu mengikuti bendanya dimanapun atau di tangan siapapun benda itu berada
  4. Memberikan kekuasaan langsung terhadap benda jaminan dan dapat dipertahankan terhadap siapapun juga.
  5. Adanya pemindahan kekuasaan dari benda yang dijadikan jaminan (unsure inbezitstglling) dari pemberi gadai kepada pemegang gadai.
  6. Gadai merupakan perjanjian accessoir yaitu perjanjian tambahan yang tergantung dari perjanjian pokok
  1. Gadai tidak dapat dibagi-bagi.

 

  1. C.    PROSEDUR TERJADINYA GADAI

Perjanjian gadai ini tidaklah berdiri sendiri melainkan merupakan perjanjian ikutan atau accesoir dari perjanjian pokoknya.

Perjanjian pokok ini biasanya adalah berupa perjanjian hutang piutang antara kreditur dan debitur. Dalam suatu perjanjian hutang piutang, debitur sebagai pihak yang berutang meminjam uang atau barang dari kreditur sebagai pihak yang berpiutang. Agar kreditur memperoleh rasa aman dan terjamin terhadap uang atau barang yang dipinjamkan, kreditur mensyaratkan sebuah agunan atau jaminan atas uang atau barang yang dipinjamkan. Agunan ini diantaranya bisa berupa gadai atas barang-barang bergerak yang dimiliki oleh debitur ataupun milik pihak ketiga.

Debitur sebagai pemberi gadai menyerahkan barang-barang yang digadaikan tersebut kepada kreditur atau penerima gadai. Disamping menyerahkan kepada kreditur, barang yangdigadaikan ini dapat diserahkan kepada pihak ketiga asalkan terdapat persetujuan kedua belah pihak.

  1. HAPUSNYA GADAI
  1. Apabila benda gadai dikeluarkan dari kekuasaan Penerima Gadai dan kembali ke tangan Pemberi Gadai
  2. Manakala perikatan pokok telah dilunasi atau jika utang pokok telah dilunasi semuanya atau telah hapus
  3. Hilangnya atau dicurinya benda gadai dari penguasaan Pemegang Gadai/Penerima Gadai (musnahnya benda gadai)
  4. Dilepaskannya benda gadai secara sukarela oleh Pemegang/Penerima Gadai.
  1. PERBEDAAN GADAI DENGAN HIPOTIK
  1. Gadai harus disertai dengan pernyataan kekuasaan atas barang yang digadaikan, sedangkan hipotik tidak.
  2. Gadai hapus jika barang yang digadaikan berpindah tangan ke orang lain, sedangkan hipotik tidak, tetapi tetap mengikuti bendanya walaupun bendanya dipindah tangankan ke orang lain.
  3. Satu barang tidak pernah dibebani lebih dari satu gadai walaupun tidak dilarang, tetapi beberapa hipotik yang bersama-sama dibebankan diatas satu benda adalah sudah merupakan keadaan biasa.
  4. Adanya gadai dapat dibuktikan dengan segala macam pembuktian yang dapat dipakai untuk membuktikan perjanjian pokok sedangkan adanya perjanjian hipotik dibuktikan dengan akta otentik.

hukuman hudud


hukuman hudud adalah hukuman yang mana ganjaran hukuman bagi pelaku kejahatan telah di tentukan di dalam nash atau Al-Qur’an.

contoh nya dalam zina, peminum khamar, pencurian

1. zina

zina adalah hubungan kelamin antara pasangan yang bukan muhrimnya. hukumannya terdapat didalam Al-Qur’an surat an-nur ayat 2

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

dalam hal ini para fuqaha membagi zina ini kedalam dua macam yaitu :

a. orang yang berzina yang salah satunya terikat tali perkawinan. maka hukuman buatnya adalah dera seratus kali dan dirajam.

b. perjaka dan perawan yang berzina. maka hukumannya adalah dera seratus kali saja tanpa dirajam.

2. peminum khamar

khamar adalah suatu zat yang didalam nya terdapat unsur yang memabukkan dan membut seseorang kehilangan akan berfikir.

dalam penetapan hukumannya para ulama berbeda pendapat.

1. Jumhur fuqoha

Jumhur ulama sepakat bahwa peminum khamar yang memenuhi syarat untuk dihukum, maka bentuk hukumannya adalah dicambuk sebanyak 80 kali.

Pendapat mereka didasarkan kepada perkataan Sayyidina Ali ra.,

“Bila seseroang minum khamar maka akan mabuk. Bila mabuk maka meracau. Bila meracau maka tidak ingat. Dan hukumannya adalah 80 kali cambuk. (HR. Ad-Daruquthuni, Malik).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ali ra. berkata,

“Rasulullah SAW mencambuk peminum khamar sebanyak 40 kali. Abu bakar juga 40 kali. Sedangkan Utsman 80 kali. Kesemuanya adalah sunnah. Tapi yang ini (80 kali) lebih aku sukai”. (HR. Muslim).

2. Imam Asy-Syafi`i ra.

Sedangkan Imam Asy-Syafi`i ra. berpendapat bahwa hukumannya adalah cambuk sebanyak 40 kali.

Dari Anas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mencambuk kasus minum khamar dengan pelepah dan sandal sebanyak 40 kali”. HR. Bukhari, Muslim, Tirmizy, Abu Daud).

3. pencurian

mencuri adalah mengambil harta/benda orang lain secara diam-diam untuk dimiliki.

hukuman bagi pencuri terdapat dalam Al-qur’an surat Al-maidah ayat 38

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

dalam pelaksanaannya para fuqaha menetapkan bahwa apabila di mencuri satu kali maka potong pergelangan tangan kanan, apabila dia mencuri lagi maka potong kaki kirinya, dan bila masih mencuri maka di potong pergelangan tangan kirinya, dan masih mencuri juga maka potong kaki kanan nya, dan apabila masih bisa juga dia mencuri maka dipenjarakan dia sampai dia benar-benar taubat.

KEDUDUKAN, KEWENANGAN, DAN TINDAKAN HUKUM PEMERINTAH

  1. A.     Kedudukan Hukum (Rechtspositie) Pemerintah

Pembagian hukum ke dalam hukum publik dan hukum privat yang dilakukan oleh ahli hukum Romawi, Ulpianus, ketika ai menulis “Publicum ius est, quod ad statum rei romanea spectat, privatum quo ad singulorum utitilatem” (hukum publik adalah hukum yang berkenaan dangan kesejahteraan Negara Romawi, sedangkan hukum privat adalah hukum yang mengatur hubungan kekeluargaan), pengaruhnya cukup besar alam sejarah pemikiran hukum, sampai sekarang. Salah satu pengaruh yang masih tersisa hingga kini antara lain bahwa kita tidak apat menghindarkan diri dari pembagian tersebut, termasuk dalam mengkaji keberadaan pemerintah dalam melakukan pergaulan hukum.

Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa pemerintah di samping melaksanakan kegiatan dalam bidang hukum publik, juga sering terlibat dalam lapangan keperdataan. Dalam pergaulan hukum, pemerintah sering tampil dengan twee pet’en,  dengan dua kepala, sebagai wakil dari jabatan (ambt) yang tunuk pada hukum publik dan wakil dari badan hukum (rechtspersoon) yang tunduk pada hukum privat. Untuk mengetahui kapan administrasi Negara terlibat alam pergaulan hukum publik dan kapan terlibat dalam hukum keperdataan, pertama-tama yang harus dilakukan adalah melihat lembaga kedudukan hukum Negara ini, mau tidak mau harus melibatkan pembagian dua jenis hukum tersebut.

Dalam persepktif hukum publik, Negara adalah organisasi jabatan. Menurut Logemann “dalam bentuk kenyataan sosialnya, Negara adalah organisasi yang berkenaan dengan berbagai fungsi. Yang dimaksud dengan fungsi adalah lingkungan kerja yang terperinci dalam hubungannya secara keseluruhan. Fungsi-fungsi ini dinamakan jabatan. Negara adalah organisasi jabatan”.

Menurut Bagirmanan, jabatan adalah lingkungan pekerjaan tetap yang berisi fungsi-fungsi tertentu yang secara keseluruhan mencerminkan tujuan dan tata kerja suatu organisasi. Negara berisi berbagai jabatan atau lingkungan kerja tetap dengan berbagai fungsi untuk mencapai tujuan Negara. Dengan kata lain, jabatan adalah suatu lingkungan pekerjaan tetap (kring van vaste werkzaamheden) yang diakan dan di gunakan guna kepentingan Negara. Jabatan itu bersifat tetap, sementara pemegang jabatan (ambstdrager) dapat berganti-ganti.

  1. B.     Kedudukan Pemerintah Dalam Hukum Publik

Menurut P. Nicolai dan kawan-kawan, ada beberapa ciri yang terdapat pada jabatan atau organ pemerintahan yaitu :

  1. Organ pemerintah menjalankan wewenang atas nama dan tanggung jawab sendiri, yang dalam pengertian modern, diletakkan sebagai pertanggung jawaban politik dan kepegawaian atau tanggung jawab pemerintah sendiri di hadapan hakim. Organ pemerintah adalah pemikul kewajiban tanggung jawab.
  2. Pelaksanaan wewenang dalam rangka menjaga dan mempertahankan norma hukum administrasi, organ pemerintahan dapat bertindak sebagai pihak tergugat dalam proses peradilan, yaitu alam hal ada keberatan, banding, atau perlawanan.
  3. Disamping sebagai pihak tergugat, organ pemerintahan juga dapat tampil menjadi pihak yang tidak puas, artinya sebagai pengugat.
  4. Pada prinsipnya organ pemerintahan tidak memiliki harta kekayaan sendiri. Organ pemerintahan merupakan bagian (alat) dari badan hukum menurut privat dengan harta kekayaannya. Jabatan Bupati atau Walikota adalah organ-organ dari badan hukum “Kabupaten”. Berdasarkan aturan hukum badan umum inilah yang dapat memiliki harta kekayaan, bukan organ pemerintahannya.

Meskipun jabatan pemerintahan ini dilekati dengan hak dan kewajiban atau diberi wewenang untuk melakukan tindakan hukum, namun jabatan tidak dapat bertindak sendiri. Jabatan dapat melakukan perbuataan hukum, yang dilakukan melalui perwakilan (vertegenwoordinging) yaitu penjabat (ambtsdrager), yang bertindak atas jabatan itu.

Menurut E. Utrecht oleh diwakili penjabat, maka jabatan itu berjalan. Yang menjalankan hak dan kewajiban yang didukung oleh jabatan ialah penjabat. Jabatan bertindak dengan perantaraan penjabatnya. P. Nicolai dan kawan-kawan menyebutkan bahwa : “ kewenangan yang diberikan kepada organ pemerintahan harus dijalankan oleh manusia. Tenaga dan pikiran mereka yang ditunjuk untuk menjalankan fungsi organ tersebut yaitu para penjabat”. Berdasarkan ketentuan hukum, penjabat hanya menjalankan tugasdan wewenang, karena penjabat tidak “memiliki” wewenang. Yang memiliki wewenang adalah jabatan.

Logemann mengatakan, “berdasarkan hukum tata Negara, jabatanlah yang dibebani dengan kewajiban, yang berwenang untuk melakukan perbuatan hukum, hak dan kewajiban berjalan terus, tidak peduli dengan pergantian penjabat”

Menurut F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek mengatakan bahwa “pada keduanya jabatan dan penjabat diterapkan jenis hukum yang berbeda. Jabatan inspektur pajak berwenang mengeluarkan ketetapan pajak. Jabatan ini dijalankan oleh wakilnya, yaitu penjabat. Wakil ini adalah manusia yang bertindak sebagai inspektur pajak yakni pegawai, dan dalam kualitasnya sebagai pegawai ia tunduk pada hukum kepegawaian. Wakil ini hanya sekedar dapat menjalankan keputusan jabatan. Dengan demikian, pengangkatan sebagai inspektur pajak telah mengantarkan kewenangan untuk jabatan inspektur pajak, guna mewakilinya”

 

 

  1. C.     Macam-Macam Jabatan Pemerintahan

Menurut Philipus M. Hadjon : “wewenang hukum publik hanya dapat memiliki oleh “penguasa”. Dalam ajaran ini terkandung bahwa setiap orang atau setiap badan yang memiliki hukum publik harus dimasukkan kedalam golongan penguasa sesuain dengan defenisinya. Ini berarti bahwa setiap orang atau badan yang memiliki wewenang hukum publik dan tidak termasuk dalam daftar nama badan-badan pemerintahan umum seperti disubutkan dalam UUD (pembuat undang-undang, pemerintah, mentri, badan-badan Propinsi dan kotaPraja) harus dimasukkan dalam desentralisasi (fungsional). Bentuk organisasi yang bersifat yuridis tidak menjadi soal. Badan yang bersangkutan dapat berbentuk suatu badan yang didirikan oleh undang-undang, tetapi dapat juga badan pemerintah dari yayasan/lembaga yang bersifat hukum perdata yang memiliki wewenang hukum publik”

Selanjutnya Indroharto mengelompokkan organ pemerintahan atau tata usaha Negara itu sebagai berikut :

v  Instalasi-instalasi resmi pemerintah yang berada dibawah Presiden sebagai kepala eksekutif.

v  Instalasi-instalasi dalam lingkungan Negara diluar lingkungan kekuasaan eksekutif yang berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan melaksanakan urusan pemerintahan.

v  Badan-badan hukum perdata yang didirikan oleh pemerintah dengan maksud untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.

v  Instalasi-instalasi yang merupakan kerjasama antara pihak pemerintah dengan pihak swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.

v  Lembaga-lembaga hukum swasta yang berdasarkan peratiran perundang-undangan dan system perizinan melaksanakan tugas pemerintahan.

Secara terperinci SF. Marbun menjelaskan pengertian Badan atau Penjabat TUN yang menyelenggarakan urusan, fungsi atau tugas pemerintah, yakni :

  • Mereka yang termasuk kedalam golongan eksekutif mulai dari Presiden sampai kepada Kepala Pemerintahan (Termasuk Pembantu-Pembantunya Di Pusat Seperti Wakil Presiden, Para Mentri dan Lembaga-lembaga Non-Departemen)
  • Mereka yang menyelenggarakan urusan desentralisasi, yaitu Kepala Daerah Tingkat I, Kepala Daerah Tingkat II dan Pemerintahan Desa.
  • Mereka yang menyelenggarakan urusan dekonsentrasi, seperti Gubernur, Bupati, Walikotamadya, Walikota Administratip, Camat, serta Lurah.
  • Pihk ketiga atau pihak swasta yang mempunyai hubungan istimewa atau hubungan biasa dengan pemerintah, baik yang diatur atas dasar hukum publik maupun hukum privat.
  • Pihak ketiga atau swasta yang memperoleh kosensi atau izin dari pemerintah.
  • Pihak ketiga atau swasta yang diberi subsidi oleh pemerintah, misalnya sekolah-sekolah swasta.
  • Yayasan-yayasan yang didirikan dan diawasi oleh pemerintah.
  • Pihak ketiga atau koperasi yang didirikan dan di awasi oleh pemerintah.
  • Pihak ketiga atau bank-bank yang didirikan dan diawasi oleh pemerintah.
  • Pihak ketiga atau swasta yang bertindak bersama-sama dengan pemerintah (Persero), seperti BUMN yang memperoleh atribusi wewenang, PLN, Pos dan Giro, PAM, Telkom, garuda, dan lain-lain.
  • Ketua Pengadilan Negeri, Ketua Pengadilan Tinggi dan Ketu Mahkamah Agung serta Penitera dalam lingkungan peradilan.
  • Sekretaris pada Lembaga Tertinggi Negara (MPR) dan Lembaga-lembaga Tinggi Negara serta Sekretaris pada DPRD.

 

  1. D.    Kedudukan Pemerintah Dalam Hukum Privat

Telah disebutkan bahwa Negara dalam perspektif hukum perdata adalah sebagai badan hukum publik. Badan hukum (rechtspersoon) adalah “kumpulan orang-orang, yaitu semua yang didalam kehidupan masyarakat (dengan beberapa perkecualian) sesuai dengan ketentuan unadang-undang dapat bertindak sebagai manusia, yang memiliki hak-hak dan kewenangan-kewenangan, seperti kumpulan orang (dalam suatu badan hukum), perseroan terbatas, perusahaan perkapalan, perhimpunan (sukarela), dan sebagainya” dalam ungkapan lain menyatakan bahwa badan hukum adalah “apa yang ada dalam pengertian undang-undang dianggap seperti orang dan kepada siapa yang dengan sepenuhnya diberikan wewenang hukum untuk melakukan tindakan hukum dan secara hukum tampil dan bertindak dengan harta kekayaan (terpisah)”

SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM

  1. A.    PENGERTIAN

[1]Sunnah dalam arti syar’i ialah apa yang bersumber dari rasul, perkataan atau perbuatan atau ketetapan.

[2]As- sunah itu bersifat Dzanni al-warud. Dari kenyataan ini lah jumhur ulama mengatakan bahwa as-sunnah menempati urutan yang kedua setelah Al-qur’an, jadi as-sunnah adalah semua bentuk perkataan, perbuatan dan taqrir nabi yang merupakan sumber kedua setelah Al-qur’an.

[3]Menurut ahli hadits, pengertian hadits dan sunnah mengandung makna yang sama yakni sama-sama semua perbuatan, ucapan dan taqrir nabi. Akan tetapi, pada hakikatnya ada perbedaan antara hadits dan sunnah. Hadits ialah semua peristiwa yang disandarkan kepada nabi, walaupun hanya sekali saja terjadi disepanjang hayatnya. Sedangkan sunnah adalah Amaliyah nabi yang mutawatir, khususnya dari segi maknanya, karena walaupun dari segi lafal penukilannya tidak muatawatir yang menyebabkan sanad nya pun menjadi tidak mutawatir pula namun karena pelaksanaannya mutawatir maka dia dinamakan sunnah.

[4]Pengertian tersebut menunjukan tiga bentuk sunnah :

  1. 1.      Sunnah  Qauliyah (ucapan)

Adalah hadits-hadits rasul yang berupa ucapan di dalam berbagai tujuan da permasalahan mazhab seperti sabda beliau

 

 

Artinya : tidak di perkenankan membuat mudarat dan tidak boleh mengadakan balsan dengan mudarat

  1. 2.      Sunnah Fi’liyah (perbuatan)

Yaitu perbuatan rasul seperti melakukan shalat wajib lengkap dengan tat caranya, mengerjakan manasik haji. Dll

  1. 3.      Sunnah Taqriyah (persetujuan)

Adalah apa yang ditetapkan oleh rasul dari apa yang bersumber dari sebagian sahabat, yang berupa perkataan, perbuatan dan sulatnya (berdiam diri saja) dan tidak mengingkarinya arau dengan menyetujuinya dan menyatakan kebaikan-kebaikannya. Maka diambil pelajaran dari ketetapan ini dan menyetujui perbuatan yang bersumber dari rasul itu sendiri. Contohnya shalat sunat sebelum shalat magrib.

[5]Menurut Hasbi, sunnah dan hadits itu mempunyai dua sifat yaitu :

  1. Penetapan hukum (tasyri’)
  2. Pedoman untuk menetapkan suatu hukum (digunakan untuk memenuhi hajat manusia kepada hukum dan tata aturan hidup, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan pergaulan hidup masyarakat.

 

  1. B.     KEDUDUKAN AS-SUNNAH DAN FUNGSINYA

Kedudukan sunnah menurut dalil syara’ berada pada posisi kedua setelah Al-qur’an dalam kaitan ini Al-syatibi dan Al- qasimi, [6]pada dasarnya argumentasi mereka digolongkannya menjadi dua bagian, yaitu argumentasi rasional dan tekstual, yaitu :

–          Al-qur’an bersifat Qath’I al-wurud, sedangkan sunnah bersifat Zhanny al wurud oleh karena itu yang Qhat’i harus didahulukan dari yang Zhanny.

–          As-sunnah berfungsi sebagai penjabar atau penjelas dari Al-qur’an.

Hadits yang menerangkan urutan dan kedudukan As-sunnah setelah Al-qur’an

 

 

 

 

“ Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz bin jabal : bagaimana anda akan memutuskan suatu hukum apabila anda dihadapkan kepada suatu perkara? Mu’adz berkata : saya akan berpedoman kepada kitap Allah (Al-qur’an), nabi bersabda : bagaimana  kalau anda tidak menemukannya dalam Al-qur’an? Mu’adz berkata : saya akan berpedoman kepada sunnah rasulullah. Nabi bersabda : bagaimana kalau anda tidak menemukannya? Mu’adz berkata : saya akan berijtihad dengan akal dan pemikiran saya.

–          Al- qur’an bersifat mujmal (umum) itu memerlukan penjelasan dari As-sunnah.

Fungsi As-sunnah terhadap Al-qur’an.

Ulama ushul biasanya mengelompokkan fungsi As-sunnah terhadap Al-qur’an menjadi tiga kelompok [7]yaitu :

  1. As-sunnah berfungsi memperkuat apa yang telah ditetapkan oleh Al-qur’an misalnya hadits

 

 

 

 

Islam didirikan atas lima perkara : syahadat (kesaksian) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa dalam bulan ramadhan dan haji ke Baitullah bagi yang mampu melakukannya kesana.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

الزَّكَاةَ وَآتُواْ الصَّلاَةَ أَقِيمُواْ وَ

dirikan lah shalat dan bayarlah zakat” (Al-baqarah : 86)

…الصِّيَامُ عَلَيْكُمُ كُتِبَ آمَنُواْ الَّذِينَ أَيُّهَا يَا

“hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa …”(Al-baqarah : 183)

إِلَيْهِ اسْتَطَاعَ مَنِ الْبَيْتِ حِجُّ النَّاسِ عَلَى وَلِلّهِ سَبِيلاً

“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah bagi yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah” (Ali-imran : 97).

  1. As-sunnah berfungsi sebagai memperjelas atau merinci apa yag telah digariskan dalam Al-qur’an (penjelasan dari ayat yang mujmal).
  2. As-sunnah berfungsi sebagai menetapkan hukum yang belum diatur dalam Al-qur’an.

 

  1. C.    PEMBAGIAN AS-SUNNAH BERDASARKAN SANAD

Dilihat dari rawinya, As-sunnah dibagi menjadi tiga bagian

  1. a.      Sunnah mutawatir (hadits mutawatir)

Ialah sunnah yang diriwayatkan dari seorang rasul, sejak masa sahabat, tabi’in dan tabi’in tabi’in oleh banyak orang sehingga mustahil untuk berdusta menurut adat karena jumlahnya banyak dan perbedaan pandangan serta budaya nya.

Biasanya as-sunnah amaliyah yang termasuk bagian ini seperti mengerjakan shalat, puasa, haji, yang bersifat amaliyah

  1. b.      Sunnah masyurah (hadits masyur)

Yaitu sunnah yang diriwayatkan oleh rasulullah oleh seorang, dua orang atau sekelompok sahabat yang tidak mencapai derajat atau tingkatan sunnah mutawatir. Yang termasuk kelompok ini adalah Umar bin khatab, Abdullah bin mas’ud atau Abu bakar as-siddiq seperti hadits :

 

 

“sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu dengan niat”

  1. c.       Sunnah ahaad (sunnah ahad)

Yaitu sunnah yang mempunyai satu atau dua sanad yang berlainan yang tidak mencapai derajat masyhurah.

Hadits ahad terbagi kepada tiga jenis, yaitu :

–          Hadits sahih adalah hadits yang bersambung sanadnya dari orang yang adil lagi dhabit, yang selamat dari syaz dan ilat.

–          Hadits hasan adalah hadits yang dhabitnya tidak sahih.

–          Hadits dhaif adalah hadits yang lemah atau hadits yang tidak mempunyai syarat-syarat hadits sahih.

 

  1. D.    KEHUJJAHAN HADITS

Sudah menjadi kesepakan dari kalangan kaum muslimin bahwa sunnah rasulullah yang dimagsudkan sebagai undang-undang dan pedoman umat yang harus diikuti asal saja sampainya kepada kita dengan sanad (sandaran) yang sahih, hingga memberikan keyakinan yang pasti (mutawatir) atau dugaan yang kuat (ahad) bahwa memang benar datang dari rasulullah adalah menjadi hujjah kaum muslimin dan sebagai sumber hukum dari mujhtahid, untuk memetik hukum syara’.

Argumentasi tentang kedudukan sunnah sebagai hujjah tersebut berdasarkan dari beberapa ayat Al- qur’an, as-sunnah, ijma’ sahabat dan logika :

 

 

 

  1. 1.      Surat Ali-imran : 32

Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

  1. 2.      Surat An-nisa : 59

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

  1. 3.      Hadits rasulullah SAW yang artinya :

“aku menasihatkan kepada kamu agar kamu taqwa kepada Allah, taat dan patuh, biarpun seorang hmaba sahaya yang memerintah kamu, sungguh orang yang hidup lama diantara kamu nanti, bakal mengetahui adanya pertentangan-pertentangan yang hebat. Oleh karena itu hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnah ku, sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah dengan taringmu jauhkan mengada-adakan perkara, sebab perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah padahal setiap bid’ah itu tersesat dan setiap yang tersesat itu dineraka”.

 

  1. 4.      Ijma’ para sahabat

Bahwa selama mereka tidak mendapatkan ketentuan hukum suatu kejadian di dalam Al-qur’an, maka mereka meneliti hadits yang dihafal oleh para sahabat dan tak seorang pun diantara mereka yang mengingkari sunnah rasulullah apabila yang diriwayatkan oleh sahabat lama itu dapat diiyakini kebenarannya.

  1. 5.       Secara logika memang logis, karena.
  2. Al-qur’an sebagai undang-undang dasar asasi tidak menjelaskan secara rinci baik mengenai cara-cara melaksanakan maupun syarat dari beberapa perintah yang membebaninya kepada umat, jadi sunnah lah yang menjelaskan rinciannya adalah rasulullah baik dengan perkataan, perbuatan ataupun pengakuannya.
  3. Andai kata sunnah tidak berfungsi sebagai hujjah, maka sulitlah manusia untuk melaksanakan perintah Allah karena tidak tahu cara-cara dan syaratnya.

Jadi, terbukti pentingnya peranan sunnah sebagai penjelasan umum dan pasal demi pasal dari satu undang-undang. Dia menjelaskan kemubhaman Al-qur’an, mentafsilkan kemujmalan nya, mentakhsiskan keumumannya kemudian meletakkan hukum yang saling bertemu dengan hukum Al-qur’an. Tidaklah cukup mengistinbadkan hukum dari Al-qur’an tanpa sunnah.

Dengan demikian jelas bahwa kemantapan kedudukan sunnah sebagai hujjah dan sebagai sumber hukum berdiri sendiri, merupakan dharuriah yang tidak diperselisihkan lagi kecuali bagi orang yang tidak ada tempatnya dalam agama islam.

 

  1. E.     AS-SUNNAH YANG QHAT’I DAN DZANNI

Dilihat dari segi datangnya (wurudnya), [8]hadits mutawatir dan mansysurah termasuk sunnah yang Qhat’I, sedangkan hadits ahad termasuk sunnah yang Zhanni karena sanadnya tidak pasti atau berainan.

Dengan demikian, dari segi datangnya sunnah itu ada yang Qhat’I dan ada pula yang Zhanni sebagaimana pada Al-qur’an.


[1] Syekh Abdul Wahab Khalaf, ilmu ushul fiqih, bab as-sunnah, hal 37

[2] Drs. H. Fathurrahman Djamil, MA, filsafat hukum islam, bab sunnah hal 93

[3] Prof. Dr. Nourozzaman Shiddiai, MA, fikih indonesia penggagas dan gagasannya, bab As-sunnah hal 111

[4] M. Ali Hasan, perbandingan mazhab, bab As-sunnah hal 17

[5] Lokcit hal 112

[6] Opcit hal 93

[7] Abd al-wahab al-kalaf, ilmu ushul al-fiqh, al-majlis al-a’ala al-indonesia li al-da’wah al-islamiyah, Jakarta, 1972, hal39-40

[8] Opcit hal 45

‘URF

  1. A.    Pengertian

Secara etimologi,urf berarti baik, kebiasaan dan sesuatu yang dikenal. Adat dan‘Urf adalah dua kata yang sinonim (mutaradif) Namun bila digali asal katanya, keduanya berbeda. ‘adat berasal dari kata‘ada-ya’udu artinya perulangan (berulang-ulang), ‘urf berasal dari‘arafa – ya’rifu, sering diartikan dengan “sesuatu yang dikenal” (dan diakui orang banyak).

Tidak ada perbedaan yang prinsip antara adat dan‘urf, karena pengertian keduanya sama, yaitu perbuatan yang telah berulang-ulang dilakukan sehingga menjadi dikenal dan diakui orang banyak. Jadi meskipun asal kata keduanya berbeda,namun perbedaannya tidak berarti[1].

Oleh karena kedua kata itu sama, maka 5 kaedah utama menggunakan kata ‘adat, bukan ‘urf.‘Urf adalah suatu keadaan, ucapan, perbuatan, atau ketentuan yang sudah dikenal manusia dan telah menjadi tradisi dalam masyarakat. Di kalangan masyarakat sering disebut sebagai adat.

  1. B.      Perbedaan adat dengan ‘urf

Namun ada yang membedakan makna keduanya. Adat memiliki cakupan makna yang

lebih luas. Adat dilakukan secara berulang-ulang tanpa melihat apakah adat itu baik atau buruk Adat mencakup kebiasaan pribadi, seperti kebiasaan seorang dalam tidur jam sekian, makan dan mengkonsumsi jenis makanan tertentu.

Adat juga muncul dari sebab alami, seperti cepatnya anak menjadi baligh di daerah tropis, cepatnya tanaman berbuah di daerah tropis. Adat juga bisa muncul dari hawa nafsu dan kerusakan akhlak, seperti suap, pungli dan korupsi. “Korupsi telah membudaya, terjadi berulang-ulang dan dimana-mana”. Sedangkan ‘urf tidak terjadi pada individu. ‘Urf merupakan kebiasaan orang banyak  ﻞﻌﻓ وأ لﻮﻗ ﻲﻓ مﻮﻗ رﻮﻬﻤﺟ ةدﺎﻋ  Kebiasaan mayoritas suatu kaum dalam perkataan atau perbuatan[2].

 

Mustafa Ahmad Zarqa (Yordania), ‘urf bagian dari ‘adat, karena adat lebih umum dari ‘urf. Suatu ‘urf harus berlaku pada kebanyakan orang di daerah tertentu bukan pada pribadi atau golongan.

‘Urf bukan kebiasaan alami, tetapi muncul dari praktik mayoritas umat yang telah mentradisi. Misalnya, harta bersama, konsinyasi, urbun, dll.

 

  1. C.     Jenis Urf

 

  1. a.      Dari Segi Obyeknya (Materi)             
  • ‘Urf Qawli adalah kebiasaan pada lapaz/ucapan

Contoh : Lapaz daging dipahami di Padang hanya daging sapi

Bila sesorang mendatangi penjual daging, dan berkata “Saya beli daging 1 kg”, sedangkan penjual daging memiliki jualan daging-daging lain dan ikan, ayam, bebek. Maka yang diamksud adalah daging sapi. Jika seorang Minang bersumpah tidak akan makan daging, tetapi setelah itu ia makan daging ikan. Maka ia tidak melanggar sumpah / tidak membayar kifarat, karena yang dimaksudkan dengan daging dalam sumpah tersebut adalah daging sapi.

Walaupun menurut Al-quran, ikan termasuk daging “ﺎﻳﺮﻃ ﺎﻤﺤﻟ”. Ini berarti makna daging difahami sesuai dengan ‘urf di suatu daerah. Misalnya seorang bernazar, jika saya lulus S2, saya akan mewaqafkan kereta untuk Yayasan Anak Yatim X. Akibat hukum nazar seseorang tergantung adatnya (daerahnya), Di Malaysia hal itu diwujudkan dengan membeli mobil. Di Sumatera diwujudkan dengan membeli motor.

Di Jawa diwujudkan dengan membeli kereta Api.

ﻪﺑ ﻢﻠﻜﺘﻳ ﻰﺘﻟا ﻪﺘﻐﻟو ﻪﺑﺎﻄﺧ ﻲﻓ ﻪﺗدﺎﻋ ﻰﻠﻋ ﻞﻤﺤﻳ ﺪﻗﺎﻋ ﻞآ

“Jadi setiap orang yang berakad, di dasarkan pada adat kebiasaan dalam ucapan

dan bahasa yang ia ucapkan.”

 

  • ‘Urf Fi’li adalah kebiasaan atau perbuatan

Contohnya:

  1. Kebiasaan pemilik toko mengantarkan barang belian yang berat/besar, ke rumah pembeli seperti lemari, kursi, dan peralatan rumah tangga yang berat lainnya Tanpa dibebani biaya tambahan
  2. Kebiasaan menerapkan proteksi asuransi pada pembiayaan
  3. Kebiasaan meminta agunan pada pembiayaan di bank syariah
  4. Dari segi cakupannya

 

  • ‘Urf ‘Am (Umum) adalah kebiasaan yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan daerah.
  1. Kebiasaan menerapkan proteksi asuransi pada pembiayaan bank syariah. ini berlaku di seluruh Indonesia, bahkan dunia.
  2. Kebiasaan garansi pada pembelian barang elektronik. Ini juga berlaku dimana mana.
  3. Kebiasaan meminta agunan pada pembiayaan di bank syariah.
  4.  Naik Bus Way, jauh dekat, ongkosnya sama.

 

  • ‘Urf Khas (Khusus) adalah kebiasaan yang berlaku secara khusus di daerah tertentu.

 

  1. Kebiasaan pembeli dapat mengembalikan barang yang cacat kepada penjual tertentu, (tetapi tidak berlaku di supermarket).
  2. Bagi masyarakat tertentu penggunaan kata “budak” untuk anak-anak dinggap merendahkan, tetapi bagi masyarakat (Malaya / Asahan tanjung Balai), kata budak biasa digunakan untuk anak-anak.
  3. Adat menarik garis keturunan melalui garis ibu / matrilineal), di Minang Kabau dan melalui Bapak (patrilineal) di suku Batak.
  4.  Dari Segi baik-buruk (Keabsahan)

 

  • ’Urf Shahih

Adat yang berulang-ulang dilakukan, diterima oleh orang banyak, tidak bertentangan dengan syariah, sopan santun dan budaya yang luhur.

Contohnya:

  1. Acara halal bi halal (silaturrahmi) saat hari raya.
  2. Adanya garansi dalam pembelian barang elektronik, dll.
  3. Memproteksi setiap pembiayaan dengan asuransi syariáh
  4. Mengasuransikan pendidikan anak, kenderaan, rumah, barang dagangan via lautan, secara syariáh.
  5. Menerapkan perencanaan keuangan (Financial Planning) dalam keuangan keluarga. Di sini juga ada maslahah.
  6. Kebiasaan Menabung di Bank Syariáh.
  7. Kegiatan MTQ setiap tahun.

 

2) ’Urf Fasid

Adat yang berulang-ulang dilakukan tetapi bertentangan dengan syariah Islam

Contohnya:

  1. Menyuap untuk lulus PNS/meraih jabatan.
  2. Menyuap DPR untuk mensahkan Undang-Undang.
  3. Menyuap partai politik untuk meluluskan calon gubernur atau bupati, dsb.
  4. Memberi hadiah kepada pejabat
  5. Spekulasi valas dan Hedging untuk spekulasi
  6. Kredit dengan sistem bunga di bank riba
  7. Spekulasi saham ?
  8. Bursa berjangka pada indeks tertentu
  9. Judi di pusat-pusat hiburan
  10. Pacaran (pergaulan bebas)
  11.  MLM Konvensional dan kebiasaan-kebiasaan negatifnya.
  12. Berasuransi secara konvensional (non syariah)
  13. Call money dengan sistem bunga
  14. REPO dalam Cek
  15. Arisan uang berantai (sistem piramida)

 

  1. D.    Pandangan para ulama terhadap urf:

Para ulama telah sepakat bahwa seorang mujtahid dan seorang hakim harus memelihara urf shahih yang ada di masyarakat dan menetapkannya sebagai hukum. Para ulama juga menyepakati bahwa urf fasid harus dijauhkan dari pengambilan dan penetapan hukum.

Berikut adalah praktek-praktek ’Urf dalam masing-masing mahzab:

 

 

  1. Fiqh Hanafy
  • Dalam akad jual beli. Seperti standar harga, jual beli rumah yang meliputi bangunanya meskipun tidak disebutkan.
  • Bolehnya jual beli buah yang masih dipohon karena ’urf.
  • Bolehnya mengolah lahan pertanian orang lain tanpa izin jika di daerah tersebut ada kebiasaan bahwa lehan pertanian digarap oleh orang lain, maka pemiliknya bisa meminta bagian.
  • Bolehnya mudharib mengelola harta shahibul maal dalam segala hal menjadi kebiasaan para pedagang.
  •  Menyewa rumah meskipun tidak dijelaskan tujuan penggunaaannya

 

  1. Fiqh Maliki
  • Bolehnya jual beli barang dengan menunjukkan sample
  • Pembagian nisbah antara mudharib dan sahibul maal berdasarkan ’urf jika terjadi perselisihan

 

  1. Fiqh Syafi’i
  • Batasan penyimpanan barang yang dianggap pencurian yang wajib potong tangan
  •   Akad sewa atas alat transportasi
  •    Akad sewa atas ternak
  •  Akad istishna

 

  1. Fiqh Hanbali
  • Jual beli mu’thah

Para ulama sepakat bahwa ‘urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah. Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.

 

Para ulama telah sepakat bahwa seorang mujtahid dan seorang hakim harus memelihara ’urf shahih yang ada di masyarakat dan menetapkannya sebagai hukum. Para ulama juga menyepakati bahwa ’urf fasid harus dijauhkan dari kaidah-kaidah pengambilan dan penetapan hukum. ’Urf fasid dalam keadaan darurat pada lapangan muamalah tidaklah otomatis membolehkannya. Keadaan darurat tersebut dapat ditoleransi hanya apabila benar-benar darurat dan dalam keadaan sangat dibutuhkan.

Imam Syafi’i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan ‘urf. Tentu saja ‘urf fasid tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah.

Abdul Wahab Khalaf berpandangan bahwa suatu hukum yang bersandar pada ’Urf akan fleksibel terhadap waktu dan tempat, karena Islam memberikan prinsip sebagai berikut:

“Suatu ketetapan hukum (fatwa) dapat berubah disebabkan berubahnya waktu, tempat, dan siatuasi (kondisi)”.

Dengan demikian, memperhatikan waktu dan tempat masyarakat yang akan diberi beban   hukum sangat penting. Prinsip yang sama dikemukakan dalam kaidah sebagai berikut:

“Tidak dapat diingkari adanya perubahan karena berubahnya waktu (zaman)”.

Dari prinsip ini, seseorang dapat menetapkan hukum atau melakukan perubahan sesuai dengan perubahan waktu (zaman). Ibnu Qayyim mengemukakan bahwa suatu ketentuan hukum yang ditetapkan oleh seorang mujtahid mungkin saja mengalami perubahan karena perubahan waktu, tempat keadaan, dan adat.

Jumhur ulama tidak membolehkan ’Urf Khosh. Sedangkan sebagian ulama Hanafiyyah dan Syafi’iyyah membolehkannya, dan inilah pendapat yang shohih karena kalau dalam sebuah negeri terdapat ‘urf tertentu maka akad dan mu’amalah yang terjadi padanya akan mengikuti ‘urf tersebut.

 

 

 

 

  1. E.     Banyak Qaidah Fiqh tentang keharusan urf dalam menetapkan hokum

Adat itu bisa menjadi hukum syara’ عﺮﺸﻟ ﺎﺑ ﺖﺑﺎﺜﻟﺎآ فﺮﻌﻟﺎﺑ ﺖﺑﺎﺜﻟا Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan, sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan Syariat) Sesuatu yang ditetapkan oleh kebiasaan (adat), sama seperti sesuatu yang ditetapkan oleh hukum[3].

Sesuatu yang sudah dikenal baik dan menjadi tradisi para pedagang, maka ia dianggap sebagai kewajiban yang disepakati di antara mereka. Seperti Uang Panjar dalam Jual-Beli.

 

  1. F.      Syarat-Syarat ‘Urf diterima sebagai dalil
  • ‘Urf tidak bertentangan dengan nash
  • ‘Urf itu mengandung maslahat
  • ‘Urf berlaku pada orang banyak
  • ‘Urf itu telah eksis pada masa itu,bukan yang muncul kemudian
  •  ‘Urf tidak bertentangan dengan syarat yang dibuat dalam transaksi

 

  1. G.    Kehujjahan Urf

 

  • ‘Urf ditujukan untuk memelihara kemaslahatan
  • ‘Urf bukan merupakan dalil yang berdiri sendiri, tetapi senantiasa terkait dengan dalil-dalil yang lain, seperti maslahah dan istihsan.
  • ‘Urf menunjang pembentukan/perumuan hukum Islam.

 

 

Contoh ‘Urf:

Menurut adat di daerah tertentu, mahar tidak boleh dicicil, jadi harus dibayar sekaligus sebelum walimah. Si Ali melakukan akad nikah dengan Ani dengan sejumlah mahar, tanpa menjelaskan apakah dibayar secara sekaligus atau dicicil (dalam beberapa kali bayar). Adat yang berlaku saat itu, ialah mahar harus dibayar sekaligus. Beberapa waktu kemudian, istri meminta agar mahar dibayar lunas. Kemudian adat di tempat itu berubah dimana orang-orang mulai mempraktekan pembayaran mahar secara cicilan.

Suami berpegang pada adat yang baru muncul, sementara si istri minta bayaran lunas. Maka berdasarkan ketentuan qaidah urf, suaimi harus membayar lunas, karena ia tidak boleh berpegang kpd adat yang baru muncul. Pembeli dan Penjual lemari es sepakat bahwa barang yang dibeli tersebut tidak menjadi tanggung jawab penjual untruk mengantarnya ke rumah pembeli,Itu kesepakatan mereka, walaupun adat yang berlaku berbeda. Maka disini ’urf tidak berlaku, karena berlawanan dengan syarat yang mereka sepakati.

 

  1. H.    Dalil kaidah

Lafadl al-‘adah tidak terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, namun yang terdapat pada keduanya adalah lafadh al-‘urf dan al-ma’ruf. Ayat dan hadits inilah yang dijadikan dasar oleh para ulama kita untuk kaidah ini. Diantaranya ialah:

  1. 1.      Dalil aI-Qur’an,  

 

(QS Al-Araaf[7]:199).

 

“ Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

(QS.Al-Baqarah[2]: 180).

 

” diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf.”

Dan beberapa ayat lain yang menyebut lafadh ’urf atau ma’ruf yang mencapai 37 ayat. Maksud dan ma’ruf di semua ayat ini adalah dengan cara baik yang diterima oleh akal sehat dan kebiasaan manusia yang berlaku.

  1. 2.      Dalil dari as-Sunnah:

Dalam salah satu Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah ibn Mas’ud disebutkan, “Apa yang dipandang baik oleh umat Islam, maka di sisi Allah pun baik”. Hadis tersebut oleh para ahli ushul fiqh dipahami (dijadikan dasar) bahwa tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan hukum Islam (fiqh).

  1. 3.      Qawaid fiqiyah yang bersangkutan

Berkaitan dengan ’Urf, dalam qa’idah fiqhiyah disebutkan:

“Adat kebiasaan dapat dijadikan dasar (pertimbangan) hukum”

 

Qaidah yang lain:

“Menetapkan (suatu hukum) dengan dasar (‘urf), seperti menetapkan (hukum) dengan dasar nash”.

 

Dengan kaidah tersebut, hukum Islam dapat dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan tradisi (adat) yang sudah berjalan. Sifat al-Qur’an dan al-Sunnah yang hanya memberikan prinsip-prinsip dasar dan karakter keuniversalan hukum Islam (sebagaimana contoh ayat di atas) dapat dijabarkan kaidah ini dengan melihat kondisi lokal dengan masing-masing daerah. Lebih jauh, dengan kaidah tersebut, dalam bidang perdagangan (perekonomian), qa’idah fiqhiyah memberikan keluasaan untuk menciptakan berbagai macam bentuk transaksi atau kerja sama, yaitu dengan kaidah:

“Sesuatu yang sudah terkenal (menjadi tradisi) di kalangan pedagang, seperti syarat yang berlaku diantara mereka”.

Kaidah-kaidah tersebut memberikan peluang pada kita untuk menetapkan ketentuan-ketentuan hukum, apabila tidak ada nash yang menjelaskan ketentuan hukumnya. Bahkan meneliti dan memperhatikan adat (‘urf) untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam menetapkan suatu ketentuan hukum merupakan suatu keharusan.


[1] Amir Syarifuddin,II, hlm.364

[2] A.Aziz Khayyath, Nazhayyah al-’Urf, Amman, Maktabah Al-Aqsha, hlm 24

[3]lihat pasal 1499 Al-Majallah al-Ahkam

SHALAT JUM’AT

  1. A.     Pengertian Shalat Jum’at

Shalat jum’at adalah shalat dua raka’at sesudah khotbah pada waktu zhuhur pada hari jum’at.

  1. B.     Hukum shalat jum’at

Hukum Shalat jum’at itu adalah fardhu ‘ain artinya wajib atas setiap laki-laki dewasa yang beragama islam, merdeka, dan tetap di dalam negeri. Perempuan, anak-anak, hamba sahaya, musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan tidak wajib shalat jum’at.

Firman Allah S.W.T :

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-jumu’ah:9).

Maksud dari ayat diatas menerangkan bahwa apabila seorang imam telah naik mimbar dan mu’azzin telah mengumandangkan azan di hari jum’at maka setiap muslim wajib memenuhi panggilan dari mu’azzin tersebut dan meninggalkan segala macam pekerjaan termasuk jual beli tersebut.

Sabda Rasulullah S.A.W :

عبدالله بن عمر وأبا هريرة حدثاه ؛ أنهما سمعا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول، على أعواد منبر
“لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات. أو ليختمن الله على قلوبهم. ثم ليكونن من الغافلين”.

Artinya : Dari Abdullah ibn umar dan abi hurairah bahwasanya mereka berdua mendengar Rasulullah SAW bersabda dari atas kayu-kayu mimbar : “ hendaklah qaum-qaum berhenti dari pada meninggalkan jum’at-jum’at, atau allah akan meterai atas hati-hati mereka, kemudian akan jadilah mereka dari pada orang-orang yg lalai.[1] ( HR.Muslim )

Maksudnya, orang yang meninggalkn jum’at dengan tidak berudzur itu, selain dari berdosa lantaran dengan meninggalkan kewajibannya, akan di meterai hatinya hingga jadilah ia seorang yang lalai dan tidak jaya di dalam lain-lain urusan.

 “Shalat jum’at itu hak yang wajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang islam dengan berjama’ah kecuali empat macam orang : 1. Hamba sahaya, 2. Perempuan, 3. Anak-anak, 4. Orang sakit.(Abu daud dan hakim).

  1. C.     Syarat-Syarat Wajib Shalat Jum’at.

 

v  Islam, tidak wajib atas orang non-islam.

v  Baligh (dewasa).

v  Berakal, tidak wajib shalat jum’at bagi orang gila.

v  Laki-laki, tidak wajib bagi perempuan.

v  Sehat, tidak wajib bagi orang yang sakit dan yang berhalangan.

v  Tetap didalam negeri tidak wajib jum’at bagi orang yang dalam perjalanan.[2]

 

  1. D.    Syarat Sah Mendirikan Shalat Jum’at.
  2. Hendaklah di adakan di dalam negeri yang penduduknya menetap, baik kota-kota maupun dikampung-kampung.
  3. Dilakukan dengan berjam’ah. Ka’ab ibnu malik berkata :

 

 

Artinya: Orang pertama yang menegakkan shalat jum’at Bagi’ al-khadamat  ialah As’ad ibn zararah dan ketika itu kami ada 40 orang.(HR. Ibn Hibban dan Al-Bayhaqy).

  1. Dilakukan sepenuhnya pada waktu zhuhur. Dalil nya adalah :

 

Artinya: Rasululah SAW, melaksanakan shalat jum’at ketika matahari tergelincir (HR. Bukhari).

  1. Dua kutbah sebelum shalat.

Keharusan khutbah pada shalat jum’at diketahui dari hadits Jabir Ibn Samuruh r.a :

وقال أنس: بينما النبي صلى الله عليه وسلم يخطب قائما.

“Dan berkata Annas adalah Rasulullsh SAW berdiri pada dua khutbahnya.”

  1. E.     Hal yang sunnah dilakukan sebelum mengerjakan shalat jum’at.
  1. Mandi sebelum datang ke tempat pelaksanaan sholat jum at.
  2. Memakai pakaian yang baik (diutamakan putih) dan berhias dengan rapi seperti bersisir, mencukur kumis dan memotong kuku.
  3. Memakai pengaharum / pewangi (non alkohol).
  4. Menyegerakan datang ke tempat salat jumat.
  5. Memperbanyak doa dan salawat nabi.
  6. Membaca Alquran dan zikir sebelum khutbah jumat dimulai.

 

  1. F.     Hukum Khutbah Jum’at dan Pelaksanaannya.

Jumhur atau golongan terbesar dari golongan ulama berpandapat bahwa jum’at itu adalah wajib. Mereka berpegang pada hadits-hadits shahih yang mengatakan bahwa Nabi SAW setiap mengerjakan shalat jum’at selalu disertai dengan khutbah.

Alasan-alasan Jumhur Ulama tersebut disanggah oleh Syaukani, alasannya:

  1. Semata-mata mengerjakan saja belum berarti wajib.
  2. Nabi SAW menyuruh umat supaya melakukan shalat sebagaimana yang ia lakukan, maka yang diperintah mencontoh adalah shalatnya bukan khutbah sebab khutbah tidak termasuk shalat.
  3. Dzikir yang diperintahkan Allah mengunjunginya itu, tiada lain dari shalat hingga dengan demikian ayat tersebut tidak mungkin menjadi dalil atas wajibnya khutbah.

 

 

  1. G.    Rukun dan Syarat Khutbah Jum’at.
    1. Rukun.
  • Memuji Allah dengan lafaz Alhamdulillah.
  • Bersalawat kepada Rasulullah SAW.
  • Berdo’a bagi orang-orang mukmin, khususnya pada khutbah kedua.
  • Membaca Al-Qur’an sekurang-kurangnya satu ayat, yang mengandung pengetian sempurna, pada salah satu khutbah.
  • Meningkatkan taqwa.

 

  1. Syarat-syarat.

ü  Dilakukan pada waktu zhuhur.

ü  Khutbah itu dahulu dari shalat jum’at.

ü  Berdiri apabila sanggup.

ü  Duduk diantara kedua khutbah.

ü  Suci dari hadas dan suci badan, pakaian dan tempat dari najis.

ü  Menutup aurat.

ü  Menyaringkan suara sehingga terdengar oleh 40 orang ahli jum’at.

ü  Mengucapkan rukun-rukunnya dengan bahasa arab.[3]

Sebagian ulama berpendapat bahwa khotbah itu hendaklah mempergunakan bahasa Arab, karena dimasa Rasulullah SAW dan sahabat-sahabat beliau khotbah itu selalu berbahasa arab.Tetapi mereka lupa bahwa keadan di waktu itu hanya memerlukan bahasa arab karena bahasa arab itu lah yang umum dipergunakan oleh para pendengar. Mereka lupa bahawa maksud mengadakan khotbah ialah memberikan pelajaran dan nasihat kepada kaum muslimin, dan yang mendengar diperintahkan supaya tenang ( mendengarkan dan memperhatikan isi khutbah ).

Firman Allah SWT:

 

Artinya: “Dan dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”(al-A’raf:204)

Beberapa orang ahli mengatakan bahwa ayat ini diturunkan karena berkaitan dengan urusan khotbah.

Kalau khatib berkhotbah dengan bahasa yang tidak dipahami oleh pendengar, sudah tentu maksud khotbah itu akan sia-sia belaka. Pendengar akan dipersalahkan pula karena tidak menjalankan perintah, sedangkan perintah itu tidak dapat mereka jalankan kerena mereka tidak mengerti. Jadi, member pekerjaan kepada orang yang sudah jelas tidak dapat mengerjakannya merupakan perbuatan yang tidak berfaedah. Hal ini tentu tidak layak timbul dari agama yang maha adil.

Firman Allah SWT :

 

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”(Ibrahim:4).

            Allah SWT. Mengirim utusan-Nya dengan bahasa yang dapat dipahami oleh kaum yang diperintah, supaya utusan itu berfaedah bagi mereka.

Dengan keterangan yang singkat itu nyatalah kesalahan pendapat sebagian ulama tadi, dan jelaslah bagi kita bahwa khotbah-khotbah di Indonesia hendaklah mempergunakan bahasa Indonesia, supaya khotbah ini berguna bagi pendengar dan supaya pendengar tidak melanggar perintah.

Khotbah itu hendaklah berisi perkara-perkara yang berguna bagi si pendengar dimasa itu, yaitu tentang urusan yang berkaitan atau bersangkutan dengan soal umum.

 

 

 

 

  1. H.    Sunnat Khutbah Jum’at.

–          Setelah shalat jum’at disunnahkan shalat dua rakaat di rumahnya, dan terkadang shalat empat rakaat dengan dua kali salam, adapun jika ia shalat di masjid, maka shalat empat rakaat dengan dua salam, dan tidak ada shalat qabliyah sebelum shalat jum’at.

–          Berbicara di waktu khatib sedang berkhutbah merusak pahala dan berdosa, maka tidak boleh berbicara ketika khatib sedang khutbah kecuali imam, dan orang yang diajak bicara oleh imam untuk suatu maslahat, menjawab salam, dan menjawab orang yang bersin. Boleh berbicara sebelum khutbah dan setelahnya jika ada keperluan, dan haram melangkahi pudak orang pada hari jum’at ketika imam sedang khutbah, dan makruh ihtiba’ pada hari jum’at ketika imam sedang khutbah.

–          Apabila syarat-syaratnya cukup maka mendirikan shalat jum’at di suatu kota tidak disyaratkan mendapat izin pemimpin, maka shalat jum’at didirikah baik pemimpin mengizinkan atau tidak, adapun mendirikan beberapa shalat jum’at di suatu kota, maka tidak boleh kecuali ada keperluan dan darurat setelah mendapat izin pemerintah, dan shalat jum’at didirikan di kota-kota dan desa, sedang di luar kampung tidak wajib.

–          Siapa yang masuk masjid ketika imam sedang khutbah maka ia tidak duduk hingga shalat dua rakaat singkat, dan siapa yang mengantuk di dalam masjid, maka sunnah berpindah dari tempatnya.

–          Mandi pada hari jum’at sunnah mu’akkadah, dan siapa yang badannya bau yang mengganggu malaikat dan manusia, maka ia wajib mandi, berdasarkan sabda Rasulullah :

Mandi pada hari jum’at wajib atas setiap orang yang sudah baligh. (Muttafaq alai).

–          Setelah mandi pada hari jum’at disunnahkan membersihkan diri, memakai parfum, dan memakai pakaian yang terbagus, lalu segera pergi ke masjid di waktu pagi, mendekat kepada imam, dan shalat sedapat mungkin, memperbanyak doa, dan membaca al-Qur’an.

–          Yang berkhutbah adalah imam, dan boleh satu orang khutbah, dan orang lain menjadi imam sahalat jum’at kalau ada udzur.

–          Pada malam jum’at dan siangnya disunnahkan membaca surat al-Kahfi, dan barangsiapa yang membaca surat al-Kahfi pada hari jum’at, maka memancar cahaya darinya antara dua jum’at.

–          Pada malam dan siang hari jum’at disunnahkan bagi setiap muslim memperbanyak shalawat kepada nabi . Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali. (HR. Muslim).

–          Disunnahkan bagi imam pada rakaat pertama shalat subuh hari jum’at membaca surat as-Sajdah, dan pada rakaat kedua membaca surat al-Insan.

–          Tidak disunnahkan bagi imam maupun makmum mengangkat tangan ketika berdoa pada waktu khutbah, kecuali apabila imam minta hujan, maka imam dan makmum mengangkat tangannya, adapun mengucapkan amin atas doa dengan suara pelan, maka itu disyari’atkan.

–          Disunnahkan bagi imam berdoa dalam khutbahnya, yang lebih utama mendoakan islam dan umat islam, agar mereka mendapat penjagaan, pertolongan, dan kedekatan di antara hati mereka, dsb, pada waktu berdoa, imam memberi isyarat dengan jari telunjuknya, dan tidak mengangkat kedua tangannya.[4]

 

 

  1. I.       Shalat jum’at bagi wanita.

Hukum Shalat jum’at bagi wanita itu adalah sunnat, sebagaimana yang dijelaskan didalam

Sabda Rasulullah S.A.W :

 

 

 

“Shalat jum’at itu hak yang wajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang islam dengan berjama’ah kecuali empat macam orang : 1. Hamba sahaya, 2. Perempuan, 3. Anak-anak, 4. Orang sakit.(Abu daud dan hakim).

Selama wanita itu tidak menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki, maka tidak ada larangan bagi wanita untuk merayakan hari jum’at dan menikmati berkah shalat jum’at.

  1. J.      Halangan Jum’at

Yang dimaksud dengan halangan ialah orang yang tertimpa salah satu dari halangan-halangan yang disebutkan dibawah ini. Dengan demikian, ia tidak wajib shalat jum’at.

  1. Karena sakit.
  2. Karena hujan.

Apabila karena hujan itu orang yang mendapat kesukaran untuk pergi ke tempat jum’at. Yang dijelaskan didalam Riwayat bukhari dan muslim yang artinya sebagai berikut :

“Dari Ibnu Abbas. Ia berkata kepada tukang azannya(bilal) disaat hari turun hujan, apabila engkau mengucapkan(dalam Azan), saya bersaksi bahwasanya Muhammad utusan Allah, sesudah itu janganlah engkau ucapkan “marilah shalat”, tetap ucapkanlah olehmu, “shalatlah kamu dirumah kamu”. Kata ibn Abbas pula, seolah-olah orang banyak membantah yang demikian. Kemudian katanya pula adakah kamu merasa heran mengenai hal itu? Sesungguhnya hal ini telah diperbuat oleh orang yang lebih baik dari pada saya yaitu nabi SAW. Sesungguhnya jum’at itu wajib, sedangkan saya tidak suka membiarkan kamu keluar berjalan dilumpur dan ditempat yang licin.”

  1. K.     Larangan dalam jum’at dan khutbah jum’at.
  1. Bergampangan dalam mendengarkan khutbah Jum’at atau berbicara ketika imam berkhutbah.

Mendengarkan khutbah dan diam untuk mendengarnya adalah perkara yang sangat dituntut, dan larangan untuk berbicara dan (larangan) untuk tidak memperhatikan (khutbah) disebutkan dalam hadits-hadits yang banyak. Di antaranya sada beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَغَوْتَ فَقَدْ يَخْطُبُ وَالْإِمَامُ: (أَنْصِتْ) الْجُمْعَةِ يَوْمَ لِصَاحِبِكَ قُلْتَ إِذَا

“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum’at, “Diamlah kamu” sementara imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat kesia-siaan”. Muttafaqun ‘alaihi

Ucapan “diamlah kamu” teranggap memutuskan perhatian dari mendengar khutbah walaupun sebentar sehingga menghasilkan kesia-siaan. Ini adalah keadaan orang yang menasehati (menegur), maka bagaimana lagi dengan orang yang berbicara pertama kali (yang ditegur).

Al-Hafzh menyatakan dalam Al-Fath, “Maka jika beliau (Nabi) menghukumi ucapan “diamlah kamu” padahal dia adalah orang yang beramal ma’ruf sebagai kesia-siaan, maka ucapan yang lainnya lebih pantas dianggap sebagai kesia-siaan”.

 

  1. Mengkhususkan malam Jum’at untuk sholat malam dan berpuasa di siang harinya.

Ini terlarang berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, [“Apakah Rasululah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang untuk berpuasa pada hari Jum’at?”], beliau menjawab, [“Ya”]“.

Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi

Wasallam bersabda:

وَل,اللَّيَالِي بَيْنِ مِنْ بِقِيَامٍ الْجُمْعَةِ لَيْلَةَ تَخْتَصُّوْا لاَ

أَحَدُكُم وْمُهُ يَصُ صَوْمٍ فِي يَكُوْنَ أَنْ إِلاَّ,الْأَيَّامِ بَيْنِ مِنْ بِصِيَامٍ الْجُمْعَةِ يَوْمَ تَخْتَصُّوْا اَ
 “Jangan kalian mengkhususkan sholat malam pada malam Jum’at dan jangan pula kalian mengkhususkan berpuasa pada hari Jum’at, kecuali puasa yang salah seorang di antara kalian biasa berpuasa padanya”.

Larangan (dalam hadits) ini -menurut jumhur- adalah bermakna makruh, dan menurut sekelompok ulama -di antaranya Syaikhul Islam- adalah bermakna haram. Dan tidak masuk ke dalam larangan jika pengkhususan (terhadap hari Jum’at untuk berpuasa) dikarenakan berpuasa Hari Arafah atau ‘Asyura` atau bagi orang yang berpuasa sehari dan berbuka sehari  Kebanyakan ulama menyatakan karena hal itu termasuk ke dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kecuali puasa yang salah seorang di antara kalian biasa berpuasa padanya”.

 

  1.  Berjual beli setelah adzan kedua.

Tidak halal mengadakan transaksi jual beli setelah adzan dan jual belinya teranggap fasid(rusak/tidak syah), Berdasarkan firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli”. (QS. Al-Jumu’ah:9)
Maka dalam ayat ini Allah melarang berjual beli setelah adzan, yakni adzan kedua. Jual belinya fasid karena (melanggar) larangan mengharuskan fasad (rusak/tidak syah).

 

  1. Menyentuh (baca: bermain dengan) kerikil atau melakukan perbuatan sia-sia (bermain-main) dengan menggunakan tasbih (misbahah) dan semisalnya.

Ini adalah hal yang terlarang, termasuk di dalamnya bermain dengan al-gutroh atau pakaian atau alas masjid (sajadah atau terpal atau karpet.) atau dengan siwak atau selainnya, seperti: tasbih, jam tangan, dan polpen. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang berwudhu lalu memperbaiki wudhunya kemudian dia mendatangi (Sholat) Jum’at, dia mendengarkan (khutbah) dan diam, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at ini dengan Jum’at yang akan datang ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang menyapu kerikil (dengan tangannya) maka sungguh dia telah berbuat sia-sia”.

  1. Menyendirikan hari Jum’at untuk berpuasa.

Ada banyak hadits yang menerangkan tentang larangan menyendirikan hari Jum’at untuk berpuasa, di antaranya adalah hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- beliau berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jangan kalian mengkhususkan hari Jum’at dari hari-hari lainnya dengan berpuasa, kecuali puasa yang kalian biasa berpuasa dengannya “.

Dan dalam Shohih Al-Bukhari dari Juwairiyah bintu Al-Harits (beliau bercerita) bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah masuk kepada beliau pada hari Jum’at sedang beliau dalam keadaan berpuasa, maka Nabi bersabda:

“Apakah kamu berpuasa kemarin?”, dia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Apakah kamu akan berpuasa besok?”, dia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Kalau begitu berbukalah kamu sekarang”.[5]

FILSAFAT PRA SOCRATES

A. SEJARAH FILSAFAT PRA-SOCRATES.

Filsafat Pra Socrates Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani.
Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan.

Pada masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM), yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga Phitagoras (572-500 SM) belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos.               Secara umum dapat dikatakan, para filosof pra-Socrates berusaha membebaskan diri dari belenggu mitos dan agama asalnya. Mereka mampu melebur nilai-nilai agama dan moral tradisional tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang substanslia.

Filsafat Pra Socrates adalah filsafat yang dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu. Baik dunia maupun manusia para pemikiran atau ahli filsafat yang disebut orang bijak yang mencari-cari jawabannya sebagai akibat terjadinya alam semesta beserta isinya tersebut.

Sedangkan arti filsafat itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia artinya bijaksana/pemikir yang menyelidiki tentang kebenaran-kebenaran yang sebenarnya untuk menyangkal dongeng-dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama.

Pemikiran filusuf inilah yang memberikan asal muasal segala sesuatu baik dunia maupun manusia yang menyebablan akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng atau mite-mite tersebut dengan dimulai oleh akal manusia untuk mencari-cari dengan akalnya dari mana asal alam semesta yang menakjubkan itu.

Mite-mite tentang pelangi atau bianglala adalah tempat para bidadari turun dari surga, mite ini disanggah oleh Xenophanes bahwa “pelangi adalah awan” dan pendapat Anaxagoras bahwa pelangi adalah pemantulan matahari pada awan (pendapat ini adalah pendapat pemikir yang menggunakan akal).

Dimana pendekatan yang rasional demikian menghasilkan suatu pendapat yang dikontrol, dapat diteliti oleh akal dan dapat diperdebatkan kebenarannya. Para pemikir filsafat yang pertama hidup dimiletos kira-kira pada abad ke 6 SM, dimana pada abad tersebut pemikiran mereka disimpulkan dari potongan-potongan yang diberitakan oleh manusia dikemudian hari atau zaman.

Dan dapat dikatakan bahwa mereka adalah filsafat alam artinya para ahli fikir yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan yang menjadi sasaran para ahli filsafat teresbut (obyek pemikirannya adalah alam semesta).

Tujuan filosofi mereka adalah memikirkan soal alam besar dari mana terjadinya alam itulah yang menjadi sentral persoalan bagi mereka, pemikiran yang demikian itu merupakan pemikiran yang sangat majuu, rasioanl dan radikal. Sebab pada waktu itu kebanyakan orang menerima begitu saja keadaan alam seperti apa yang dapat ditangkap dengan indranya, tanpa mempersoalkannya lebih jauh. Sedang dilain pihak orang cukup puas menerima keterangan tentang kejadian alam dari cerita nenek moyang.

 

 

B. TOKOH-TOKOH FILSAFAT YUNANI

Para filosof itu tergolong dalam filosof alam. Para filosof alam tersebut tidak mempercayai cerita-cerita yang demikian dan menganggapnya sebagai takhayul yang tidak masuk akal, karena itulah mereka berusaha untuk mendapatkan keterangan tentang inti dasar alam itu dari daya pikirnya sendiri, maka mereka pantas mendapat sebutan sebagai pemikir yang radikal karena pemikiran mereka sampai pada akar (radik=akar) dari alam yang dipersoalkan

a. Thales (625-545 SM)

Thales adalah seorang saudagar yang banyak berlayar ke negeri Mesir, ia juga

seorang ahli politik yang terkenal di Miletos saat itu masih ada kesempatan baginya untuk mempelajari ilmu matematik dan astronomi.

Ada yang mengatakan bahwa Thales mempergunakan kepintarannya itu sebagai ahli nujum. Karena pada suatu waktu ia pernah meramalkan aka nada gerhana matahari pada bulan itu dan tahun itu dan ramalan itu benar. Hal itu menyatakan bahwa ia mengetahui ilmu matematik orang Babilonia yangsangat tersohor pada waktu itu.

Dengan cara berfikir Thales mendapat keputusan tentang soal besar yang senantiasa mengikat perhatian, apa asal alam itu? Apa yang menjadi sebab penghabisan dari segala yang ada? Berdasarkan pengalamannya sehari-hari dijadikanlah pikirannya untuk menyusun bangun alam sebagai orang pesisir ia dapat melihat bahwa air laut menjadi smber hidup. Thales pula kemegahan air laut yang menjadikan ia takjub. Demikianlah laut meyebarkan bibit seluruh dunia yang menjadi dasar penghidupan. Pandangan pikirannya menyatukan semua pada air.

 

b. Anaximandros (640-547)

Anaximandros adalah salah satu murid Thales. Anaximandros adalah seorang ahli astronomi dan ilmu bumi. Meskipun dia murid Thales namun ia mempunyai prinsip dasar alam satu akan tetapi bukanlah dari jenis benda alam seperti air sebagai mana yang dikatakan oleh gurunya.

Prinsip dasar alam haruslah dari jenis yang tak terhuitung dan tak terbatas yang oleh dia disebut Apeiron yaitu zat yang tak terhingga dan tak terbatas dan tidak dapat dirupakan tidak ada persamaannya dengan apapun.

Meskipun tentang teori asal kejadian alam tidak begitu jelas namun dia adalah seorang yang cakap dan cerdas dia tidak mengenal ajaran Islam atau yang lainnya.

 

c. Anaximenes (585-494 SM)

Menurut Anaximenes prinsip yang merupakan asal usul segala sesuatu adalah udara. Udara melahirkan semua benda dalam alam semesta ini karena suatu proses “pemadatan dan pengeceran”, kalau udara semakin bertambah maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah dan akhirnya batu. Sebaliknya kalau udara itu menjadi encer yang timbul adalah api.

Pandangan Anaximenes tentang susunan jagat raya pasti merupakan kemunduran dibandingkan dengan Anaximandros. Menurut Anaximenes bumi yang berupa meja bundar katanya melayang diatas udara. Demikian pun matahari, bulan dan bintang-bintang. Badan-badan jagad raya itu tidak terbenam dibawah bumi sebagaimana yang dipikirkan Anaximandros tetapi mengelilingi bumi yang datar itu, matahari lenyap pada waktu malam karena tertutup dibelakang bagian-bagian tinggi.

 

d. Pythagoras (580-500 SM)

Pythagoras lahir dipulau Samos yang termasuk daerah Ionia dalam kota ini Pythagoras mendirikan suatu tarekat beragama yang sifat-sifatnya akan dibicarakan di bawah ini. Tarekat yang didirikan Pythagoras bersifat religious, mereka menghomati dewa Apollo.

Menurut kepercayaan Pythagoras jiwa manusia asalnya dari Tuhan, jiwa itu adalah penjelmaan dari tuhan yang jatuh kedunia karena berdosa dan dia akan kembali kelangit kedalam lingkungan tuhan semula, apabila sudah habis dicuci dosanya itu, hidup didunia ini adalah persediaan buat akhirat. Sebab itu dari sekarang dikerjakan hidup untuk hari kemudian.

Pythagoras tersebut juga sebagai ahli pikir. Terutama dalam ilmu matematik dan ilmu berhitung. Falsafah pemikirannya banyak diilhami oleh rahasia angka-angka. Dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya dengan dunia bentuk. Dari sini dapat dilihat kecakapannya dia dalam matematik mempengaruhi terhadap pemikiran filsafatnya sehingga pada segala keadaan ia melihat dari angka-angka dan merupakan paduan dari unsur angka.

 

e. Heraklitosn (540-480 SM)

Ia lahir dikota Ephesos diasi minor, ia mempunyai pendangan yang berbeda dengan filosof-filosof sebelumnya. Ia menyatakan bahwa asal segala suatu hanyalah satu yakni api. Ia memandang bahwa api sebagai anasir yang asal pandangannya semata-mata tidak terikat pada alam luaran, alam besar, seperti pandangan filosof-filosof Miletos.

Segala kejadian didunia ini serupa dengan api yang tidak putusnya dengan berganti-ganti memakan dan menghidupi dirinya sendiri segala permulaan adalah mula dari akhirnya. Segala hidup mula dari pada matinya. Didunia ini tidak ada yang tetap semuanya mengalir. Tidak sulit untuk mengerti apa sebab Heraklitos memilih api. Nyala api senantiasa memakan bahan bakar yang baru dan bahan bakar itu dan berubah menjadi abu dan asap. Oleh karena itu api cocok sekali untuk melambangkan suatu kesatuan dalam perubahan.

 

C. ALIRAN-ALIRAN FISAFAT PRA SOCRATES

  1. a.      Aliran Miletos/Madzhab Milesian

Aliran ini disebut Aliran Miletos karena tokoh-tokohnya merupakan warga asli Miletos, di Asia Kecil, yang merupakan sebuah kota niaga yang maju. Berikut beberapa tokoh yang termasuk kedalam Aliran Miletos atau dikenal pula dengan istilah Madzhab Milesian:

  1. Thales

Thales hidup sekitar 624-546 SM. Ia adalah seorang ahli ilmu termasuk ahli ilmu Astronomi. Ia berpendapat bahwa hakikat ala mini adalah air. Segala-galanya berasal dari air. Bumi sendiri merupakan bahan yang sekaligus keluar dari air dan kemudian terapung-apung diatasnya.

Pandangan yang demikian itu membawa kepada penyesuaian-penyesuain lain yang lebih mendasar yaitu bahwa sesungguhnya segalanya ini pada hakikatnya adalah satu. Bagi Thales, air adalah sebab utama dari segala yang ada dan menjadi ahir dari segala-galanya.
Ajaran Thales yang lain adalah bahwa tiap benda memiliki jiwa. Itulah sebabnya tiap benda dapat berubah, dapat bergerak atau dapat hilang kodratnya masing-masing. Ajaran Thales tentang jiwa bukan hanya meliputi benda-benda hidup tetapi meliputi benda-benda mati pula.

  1. Anaximander

Anaximander adalah murid Thales yang setia. Ia hidup sekitar 610-546 SM. Ia berpendapat bahwa hakikat dari segala seuatu yang satu itu bukan air, tapi yang satu itu adalah yang tidak terbatas dan tidak terhingga, tak berubah dan meliputi segala-galanya yang disebut “Aperion”. Aperion bukanlah materi seperti yang dikemukakan oleh Thales. Anaximander juga berpendapat bahwa dunia ini hanyalah salah satu bagian dari banyak dunia lainnya.

 

3.  Anaximenes.

Anaximenes hidup sekitar 560-520 SM. Ia berpendapat bahwa hakikat segala sesuatu yang satu itu adalah udara. Jiwa adalah udara; api adalah udara yang encer; jika dipadatkan pertama-tama udara akan menjadi air, dan jika dipadatkan lagi akan menjadi tanah, dan ahirnya menjadi batu. Ia berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti meja bundar.
b.  Aliran Pythagoras

Pythagoras lahir di Samos sekitar 580-500 SM. Ia berpendapat bahwa semesta ini tak lain adalah bilangan. Unsur bilangan merupakan prinsip unsur dari segala-galanya. Dengan kata lain, bilangan genap dan ganjil sama dengan terbatas dan tak terbatas.

1. Xenophanes

Xenophanes merupakan pengikut Aliran Pythagoras yang lahir di Kolophon, Asia Kecil, sekitar tahun 545 SM. Dalam filsafatnya ia menegaskan bahwa Tuhan bersifat kekal, tidak mempunyai permulaan dan Tuhan itu Esa bagi seluruhnya. Ke-Esaan Tuhan bagi semua merupakan sesuatu hal yang logis. Hal itu karena kenyataan menunjukkan apabila semua orang memberikan konsep ketuhanan sesuai dengan masing-masing orang, maka hasilnya akan bertentangan dan kabur. Bahkan “kuda menggambarkan Tuhan menurut konsep kuda, sapi demikian juga” kata Xenophanes. Jelas kiranya ide tentang Tuhan menurut Xenophanes adalah Esa dan bersifat universal.

2. Heraklitus (Herakleitos)

Heraklitos hidup antara tahun 560-470 SM di Italia Selatan sekawan dengan Pythagoras dan Xenophanes. Ia berpendapat bahwa asal segalanya adalah api dan api adalah lambing dari perubahan. Api yang selalu bergerak dan berubah menunjukkan bahwa tidak ada yang tetap dan tidak ada yang tenang.

C.  Aliran Elea
1. Parmenides

Lahir sekitar tahun 540-475 di Italia Selatan. Ajarannya adalah kenyataan bukanlah gerak dan perubahan melainkan keseluruhan yang bersatu. Dalam pandangan Pamenides ada dua jenis pengetahuan yang disuguhkan yaitu pengetahuan inderawi dan pengetahuan rasional. Apabila dua jenis pengetahuan ini bertentangan satu sama lain maka ia memilih rasio. Dari pemikirannya itu membuka cabang ilmu baru dalam dunia filsafat yaitu penemuannya tentang metafisika sebagai cabang filsafat yang membahasa tentang yang ada.

2. Zeno

Lahir di Elea sekitar 490 SM. Ajarannya yang penting adalah pemikirannya tentang dialektika. Dialektika adalah satu cabang filsafat yang mempelajari argumentasi.

3. Melissos

Lahir di Samos tanpa diketahui secara tepat tanggal kelahirannya. Ia berpendapat bahwa “yang ada” itu tidak berhingga, maka menurut waktu maupun ruang.
D. Aliran Pluralis

1. Empedokles

Lahir di Akragas Sisislia awal abad ke-5 SM. ia menulis buah pikirannya dalam bentuk puisi. Ia mengajarkan bahwa realitas tersusun dari empat anasir yaitu api, udara, tanah, dan air.

2. Anaxagoras

Lahir di Ionia di Italia Selatan. Ia berpendapat bahwa realitas seluruhnya bukan satu tetapi banyak. Yang banyak itu tidak dijadikan, tidak berubah, dan tidak berada dalam satu ruang yang kosong. Anaxagoras menyebut yang banyak itu dengan spermata (benih).

 


E. Aliran Atomis

Pelopor atomisme ada dua yaitu Leukippos dan Demokritos. Ajaran aliran filsafat ini ikut berusaha memecahkan masalah yang pernah diajukan oleh aliran Elea. Aliran ini mengajukan konsep mereka dengan menyatakan bahwa realitas seluruhnya bukan satu melainkan terdiri dari banyak unsur. Dalam hal ini berbeda dengan aliran pluralisme maka aliran atomisme berpendapat bahwa yang banyak itu adalah “atom” (a = tidak, tomos = terbagi).
F. Aliran Sofis

Sofisme berasal dari kata Yunani “sophos” yang berarti cerdik atau pandai. Tokoh-tokoh kaum sofis adalah Protagoras, Grogias, Hippias, Prodikos, dan Kritias.